Skip to main content

Sumamburat: Pilkada Bukan Dagelan

bangsaonline.com (21/03) SAMPAI tulisan ini tiba di Redaksi Harian Bangsa, banjir tetap menggenang di jogan dan memenuhi halaman serta menenggelamkan ruas-ruas jalan di kampung-kampung, di dusun-dusun, di desa-desa di Lamongan. Kisahnya nyaris seperceritaan banjir – rob yang acapkali terjadi di Kota Semarang, Bojonegoro, Tuban, maupun Gresik. Semua itu rutin. Air datang “menyapa warga” setiap musim penghujan selaksa para paslon pilkada yang menghadirkan diri guna dikenal untuk dipilih. Janji digelar penuh gelegar agar setiap yang tertidur mendengar bahwa pilkada sedang dilakonkan kembali. Berpuluh-puluh tahun pemerintah diselenggerakan dan penguasa ditampilkan untuk mengatasi “masalah yang sama” dari periode ke periode. Banjir, harga sembako yang membubung, harga pupuk yang “subur”, harga TDL, BBM yang meninggi, serta pajak yang semakin progresif. Saya menyaksikan orang-orang kampung sejak di Salatiga pekan lalu, lanjut di pedalaman Ngawi, Madiun, Nganjuk, Mojokerto, eh juga Pacitan, ternyata senyumnya sama. Senyum yang amat simpul bahwa derita mereka adalah karena “takdir yang harus diterima”. Iklimnya memang demikian. Alam dibuat menjadi sandaran pembenaran untuk menerima “bencana” apapun saja itu karena “kersane Gusti Allah”. Read More..

Menebus Dosa di Madakaripura

duta.co (15/03) SUNDAYANA merekam dan menarasikan jerit kegetiran tentang romantika cinta yang meradangkan nyawa maupun tahtah keluarga besar Raja Pajajaran di tahun 1357. Di lapangan Bubat darah muncrat menyimbah dalam rekahan nasib pinangan yang hendak menjemput puncak asmara di  Majapahit. Takdir berkisah sangat tidak terencana bagi gelaran pengiring pengantin yang dikira kirap pasukan. Kematian terhormat dengan kemalangan yang melintang di sekujur sejarah Putri Parahiyangan yang elok rupawan: Citracymi alias Diyah Pitaloka, sungguh membekaskan guritan luka peradaban dalam relasi panjang Majapahit dan Pasundan. Sayatan yang mengaduk hayat ragawi tumusing ruhani itulah yang hendak dibalut dengan “selendang kultural” yang pun saya apresiasi sebagai “katup seruling emas” yang hendak “didengar dalam hening” melalui jahitan Rekonsiliasi Budaya untuk Harmoniskan Sunda-Jawa. Pada titik rangkai inilah apa yang dilakonkan Pakde Karwo (Gubernur Jawa Timur) dan Kang Aher (Gubernur Jawa Barat) yang menginisiasi penyelenggaraan “temu budaya” di Hotel Bumi, 6 Maret 2018 dulu itu, kulo tampi penuh hormat, sebagaimana Gajah Mada sendiri sampai topo kungkum sejurus hati menebus tumindaknya yang salah dalam membaca arus cinta Diyah Pitaloka dan Hayam Wuruk, dengan tetap membawa-bawa “mesin politik persatuan nusantara”. Read More..

Tragedi Bubat dan Perumusan Pancasila

http://web.surabayapagi.com (16/03) TANGIS kegemparan itu mengakhiri mengalirnya darah di Alun-alun Bubat, Majapahit dengan pahatan nestapa yang tidak terperikan bagi seluruh orang Sunda. Citrasymi alias Diyah Pitaloka memungkasi palagan di Bubat dengan sayatan jiwa yang mengakhiri hayatnya di tengah hiruk-pikuk pekik kemuliaan pasukan Pajajaran dalam menjaga martabatnya. Jerit lirih nan perih membekas dalam suratan takdir Mojang Priyangan bersama Ayahanda dan Ibundanya yang terjemput maut secara kolektif akibat Gajah Mada, Sang Mahapatih Majapahit yang mengeja cinta dengan curiga. Iring-iringan kunjungan balasan dibaca tanpa narasi asmara melainkan sekadar acungan kemegahan tahta kerajaan, sehingga barisan pinangan dikira sepasukan perang. Darah Sang Nata Pajajaran bersama keluarga inti tumpah menyirami Bumi Bubat yang membekaskan duka lara berabad-abad. Sampai kini kisah sedih tragedi Bubat diulang dalam kidung Sundayana yang mengguncang “langit peradaban” dan mengunggah keperihan batin terdalam sejak tahun 1357. Sejatinya tarikh 1357 dengan persaksian Lapangan Bubat itu merupakan penanda terindah senyum yang mengembang dengan ungkapan imaji paling sempurna mengenai persatuan nasional antara Imperium Majapahit (1293) dengan Kerajaan Pakuwon Pajajaran (1333). Dari jalinan katrisnan antara Putri Citrasymi dan Sang Raja Hayam Wuruk diobsesi betapa gemilangnya kehidupan dengan lantun agung: kemuliaan yang menyemesta. Dunia ada dalam genggam anak-anak kinasih zamannya: manunggale Citrasymi-Hayam Wuruk adalah integrasi kewilayahan secara otomatis. Inilah ikatan penguat nusantara cukup dengan tarikan nafas yang tunggal: bersatu karena cinta. Read More

Sandiwara Kekuasaan

(duta.co |8 Maret 2018) TIDAK ada pemain peran yang memiliki keluasan panggung bermain sandiwara melebihi dari pemegang otoritas publiknya. Semua perangkat kelembagaan maupun kemasyarakatan memasrahkan diri dalam sandaran kursi kuasanya. Setiap jengkal ruang khalayak menyediakan diri penuh penghambaan sambil mempersilahkan agar “yang dipertuan” mengagung-agungkan diri. Sak karepmu. Atau ndoro kanjeng boleh memoles  raganya penuh dengan wadag yang nelongso di mata hamba sahayanya. Tidak perlu protokoler ataupun cucuk lampah untuk mengenakan apapun yang disukai. Boleh memelaskan diri dengan membuang uniform baju kebesaran, sepatu, perahu, bahkan sandalnya dipilih yang sebagaimana umumnya, guna berperan menjadi pengelana tanpa alas kaki. Silakan dipotret dan diviralkan untuk konsumsi media massa yang mampu mengunggahkan simpati bolo dewo. Laku ini dapat diberi dalil yang diimajinasikan kepada tindakan Nabi Musa as (1527-1407 SM), yang sebelum memangku mandat lanjutan dari Tuhan, harus menapaki bentang Gurun Sinai dengan melepaskan terompahnya, karena “penyerahan firman” itu berlangsung di areal yang suci. Melepas sepatu adalah bagian dari tirakat menjemput kuasa untuk periode berikutnya sepercontohan teladan dari kemampuan Nabi Musa As “menyibak lautan” untuk menyeberangkan umatnya. Read More..

Pilkada Para Tersangka

(surabayapagi.com | ) PILKADA yang terhelat ibarat peribahasa “air tenang menghanyutkan” atau “air beriak tanda tak dalam” maupun “tong kosong nyaring bunyinya”. Semua bersahutan memenuhi jalanan yang kini ditempuh para paslon yang gandrung kekuasaan. Mereka sedang menyibukkan diri menduduki posisi sebagai penguasa, bukan pemimpin meski dengan cita rasa sama melalui janji yang dibungkus visi-misi. Inilah prosedur demokrasi yang tengah dilakoni negara yang menjunjung tinggi-tinggi pemilukada sebagai solusi meneguhkan tokoh yang berkeabsahan menjadi penguasa. Suara terbanyak diperebutkan dengan prinsip gebyah uyah podo asine: semua orang berbobot sama narasi suaranya, tidak peduli dia bandit atau prajurit, kiai opo santri, pamong apa gembong. Semua sami mawon. Pilihan inilah yang sedang dipertontonkan dan sejurus nyali sejatinya menyingkirkan “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan” melalui niat kolektif “kerakyatan yang dikuasai gerombolan penginjak-injak” martabat masyarakat. Musyawarah dijungkalkan dengan “suara terbanyak” dan dijauhkan dari hikmah pendiri negara yang meletakkan dasar-dasar “permusyawaratan/perwakilan”. Makna terdalam sila keempat Pancasila sedang dibuang dengan sengaja oleh pegandrung-pegandrung demokrasi tanpa nilai Pancasila. Kalau sampai pada diskursus ini, siapa sejatinya yang “menenggelamkan makna Pancasila” dan yang berkata lantang “demokrasi tanpa kompromi”. Rakyat diseret untuk mengikuti pemilu-pemilu yang terpotret mengabaikan “hikmat kebijaksanaan” tetapi “nikmat keuangan” dengan munculnya paslon-paslon tersangka. Bahkan kabar anyar menginformasikan bahwa 90% peserta pilkada berstatus tersangka. Masihkah harus dilanjutkan pilkada untuk memilih orang-orang tersangka walau bukan narapidana?   Read More

Menjemput Takdir Banjir?

Oleh: Suparto Wijoyo* (duta.co | 2 Maret 2018) MUSIM telah menjadi terdakwa sebagai penyebab banjir. Seluruh warga di sepanjang bantaran Bengawan Solo maupun DAS diminta waspada. Apa yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia diminta waspada. Pun yang tinggal di Bojonegoro, Lamongan, dan Gresik yang areal hidupnya tergenang air seolah melengkapi “pesta air”  di Jombang, Pasuruan, bahkan Brebes.  Banyak kolega dari Jakarta, Semarang, Purwokerto, Palembang, dan Medan ketika di Surabaya sontak  mendapatkan pemahaman kolektifnya bahwa inilah prestasi abadi yang terus dibopong penuh bangga. Titik-titik geografis Surabaya pusat, selatan, dan barat sering berubah menjadi sungai dadakan di kala hujan. Berbagai media massa mewartakan jua tragedi banjir yang mengancam puluhan provinsi di Indonesia. Dalam skala yang lebih kolosal,  banjir telah  menyebar di areal 103 wilayah, dan 274 kabupaten/kota berpeluang menyelenggarakan “panen banjir”. Inilah fenomena yang acapkali terjadi setiap musim penghujan. Banjir menjadi tradisi tahunan yang dimaklumi dengan kerugian ekonomi, sosial dan lingkungan melebihi dari yang dapat bayangkan. Moda transportasi yang mengusung laju barang, orang dan jasa tersumbat dengan konsekuensi logis terganggunya sirkulasi kehidupan publik dalam memenuhi kebutuhannya.  Read More…

KORUPSI SANG PENGUASA

(majalahkoridor.com | Januari 01, 2018  )TULISAN ini merupakan permenungan atas realitas yang memperhinakan peradaban bangsa. Korupsi merayapi seluruh koordinat institusi negara yang jumawah kuasa dengan harta dan tahtah. Khalayak menyaksikan betapa korupsi menjadi produk keserakahan “modal maupun otoritas legal” yang menjalar di tubuh negara. Simaklah korupsi yang diungkap KPK selama ini, termasuk korupsi sektor: pertambangan, layanan umum, e-KTP, serta para penikmat dana BLBI, adalah orang-orang yang berbilang “sang kuasa” kapital. Kasus skandal  BLBI yang “naik-turun” pengungkapannya,  dana pungut dan sogokan yang melintas di pojok-pojok “terminal” kota, serta transaksi sumber daya alam di bumi Papua yang belum tergoyahkan,  sungguh telah membelalakkan mata publik.
Rakyat  terhenyak dan tampak terpaku tidak mampu beranjak. Rasa geram  sebagai warga negara atas penggarongan “biaya negara” terpotret menyembul ke permukaan dengan kekesalan paripurna. Tatanan e-KTP dan tata cara perizinan yang secara programatik sangat bagus, tampak menjadi  ejekan destruktif dalam tingkatan yang serius: ada uang ada barang.

Sumamburat: Pilkada Tanpa Banjir

(bangsaonline.com | Rabu, 28 Februari 2018 12:45 WIB) TAHUN politik ini seperti sedang mempertontonkan “tubuh publik yang sakit”. Parade orang gila yang mampu membentuk formasi persekusi kiai dipamer tanpa ragu. Episode tragedI “ninja Banyuwangi 1998” sepertinya hendak disulam menjadi “warna” penanda adanya perebutan kekuasaan. Atau itu menjadi titik jedah agar semua istirah betapa rezim ini dituntut sigap dalam menjaga ketertiban umum sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah adalah amanat konstitusi yang tidak boleh dikhianati. Belum lagi urusan orgil dientas dengan tuntas, muncul fenomena “sepak bola Piala Presiden” yang menegasikan Gubernur DKI Jakarta untuk selanjutnya“tradisi banjir”. Tradisi yang muncul di sepanjang aliran sungai, termasuk di Pasuruan berupa derita luapan bah yang bersinambung denganJombang. Read More..

Embung Lumbung Saung Gayung

(surabayapagi.com | ) PADA Jumat 23 Februari 2018 pekan lalu, seorang Guru Besar dari Graduate School of International Development, GSID, Nagoya University, Japan, namanya Prof. Yuzuru Shimada hadir memberikan kuliah tamu kepada Mahasiswa Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga. Beliau selama ini berkenan rutin memberikan pengajaran di Universitas Airlangga. Nyaris setiap tiga bulan sekali dan usai coblosan 27 Juni 2018 akan kembali berbagi ilmu dalam agenda International Conference yang dihelat Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, pada 10-12 Juli 2018. Kuliah Tamu 23 Februari 2018 tempo hari mengambil tema Energy Policy in Japan: In Relation to Environmental Disasters. Soal energi dan kebencanaan lingkungan memang selalu menarik untuk ditilik. Beragam kejadian di Indonesia tidak dapat dielakkan dalam membersitkan kelindan tragedi energi maupun ekologi. Meski kurang relevan tetapi kerap ramai dibincang adalah menyoal “bencana infrastruktur” yang acapkali menghangat sehubungan terjadinya kecelakaan proyek infrastruktur yang mengakibatkan jiwa melayang. Kejadian demi kejadian menyangkut ambruknya infrastruktur belum selesai dieja oleh rakyat, mencuat bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang menerjang Brebes, Jombang maupun Pasuruan. Bahkan jalur Probolinggo-Pasuruan selama 8-10 jam lumpuh total dengan kerugian ekonomi yang pasti sangat membengkak dengan terlambatnya mobilitas orang, barang dan jasa. Read More..

Orgil dan Sepak Boloh

(surabayapagi.com | ) Sejatinya saya lebih menaruh perhatian untuk urusan lain, selaksa agenda pilgub Jatim dalam mengusung isu lingkungan. Tetapi beragam kalangan menyelipkan pesan di belantara pergerakan “formasi orgil” yang merambah ke kampung halaman Lamongan, tentulah menyentak. Sepertinya ada persekutuan orang gila untuk membentuk order (tertib umat) “menikam para kiai”. Orang-orang gila yang memiliki kesadaran tinggi karena bereaksi setelah mendapat teguran. Sebuah realitas yang tidak hanya fenomenologis tetapi sangat sistemis dengan kecenderungan religius. Orgil yang mampu menyasar ulama, bukan yang lain semisal kuli bangunan atau pedagang sayur. Orgil ini mampu  bertindak selektif dan juga pandai bermain peran dengan tampilan meyakinkan. Panggung sosial hari-hari ini mempertontonkan kehebatan betapa orgil mampu tampil meyakinkan. Saya menjadi sangat terkesima dengan aktor orgil dalam menyikapi posisi kiai, dengan aparatur hukum yang dituntut menimang penuh pertimbangan mengingat orgil dianggap dalam tafsir yuridis tidak elok diminta pertanggungjawaban. Tampilan orgil kisahnya  semakin  ganjil: pembunuhan ulama di Jawa Barat yang  juga pernah menimpa keluarga kiai di Jombang di era lama serta menyeruak di kasus “kolor ijo” maupun “Ninja Banyuwangi” tahun 1998. Konteksnya nyaris serupa dalam genderang politik nasional yang menghangat. Merujuk Laporan Tim Pencari Fakta dari KISDI amatlah terang “cerita” pembantaian ulama di Banyuwangi yang “dilakukan orang-orang gila” yang mampu bertindak “tepat” sebagaimana di Lamongan. Read More..