Sandiwara Kekuasaan
(duta.co |8 Maret 2018) TIDAK ada pemain peran yang memiliki keluasan panggung bermain sandiwara melebihi dari pemegang otoritas publiknya. Semua perangkat kelembagaan maupun kemasyarakatan memasrahkan diri dalam sandaran kursi kuasanya. Setiap jengkal ruang khalayak menyediakan diri penuh penghambaan sambil mempersilahkan agar “yang dipertuan” mengagung-agungkan diri. Sak karepmu. Atau ndoro kanjeng boleh memoles raganya penuh dengan wadag yang nelongso di mata hamba sahayanya. Tidak perlu protokoler ataupun cucuk lampah untuk mengenakan apapun yang disukai. Boleh memelaskan diri dengan membuang uniform baju kebesaran, sepatu, perahu, bahkan sandalnya dipilih yang sebagaimana umumnya, guna berperan menjadi pengelana tanpa alas kaki.
Silakan dipotret dan diviralkan untuk konsumsi media massa yang mampu mengunggahkan simpati bolo dewo. Laku ini dapat diberi dalil yang diimajinasikan kepada tindakan Nabi Musa as (1527-1407 SM), yang sebelum memangku mandat lanjutan dari Tuhan, harus menapaki bentang Gurun Sinai dengan melepaskan terompahnya, karena “penyerahan firman” itu berlangsung di areal yang suci. Melepas sepatu adalah bagian dari tirakat menjemput kuasa untuk periode berikutnya sepercontohan teladan dari kemampuan Nabi Musa As “menyibak lautan” untuk menyeberangkan umatnya.
Read More..
