Skip to main content

Lindu dan Pemilu 2019

LINDU itu kukenang sejak masa kanak-kanak dan biasa disetiap waktunya selalu menyuguhkan gentar dalam gelisah agar setiao orang segera merebahkan diri kepada Illahi. Bumine goyang yang disertai seruan ada gempa dalam bahasa sekarang, sejatinya meneguhkan iman dengan semburat umat ke luar rumah menuju langgar-langgar, surau-surau, masjid-masjid. Di rumah ibadah inilah kami merasa tenang dan seolah Gusti Allah menjawab seruan doa manusia yang gupuh atas lindu yang “menari” di wilayahnya. Kami biasanya menyujudkan diri dalam telungkup pasrah yang paling Illahi sewaktu lindu menggoyang meja makan, perabot rumah sambil menyaksi lampu bergelantungan itu “berjoget” dalam ketidakteraturannya. Demikianlah gempa kecil-kecil itu acapkali kami rasakan sewaktu saya masih bocah di kampung-kampung Lamongan. Hanya saja Lamongan memang bukan daerah yang kerap diserbu gempa tetapi banjir dan kekeringanlah yang selalu rajin “anjangsana” setiap tahunnya. Persis seperti hari-hari ini di desa-desa di Jawa terdapat lolongan petani atas langkanya air dan ini tidak pernah mencuatkan demonstrasi besar-besaran, karena petaninya tangguh untuk merelakan dirinya antri air tengah malam dengan tetap menjaga keguyuban.   Read More

Im Malayischen Archipel

(surabayapagi.com | 060818) PETA perebutan tahtah untuk dapat menyinggahi Istana Negara semakin hari kian menyedot perhatian khalayak. Kongsi-kongsi dan koalisi-koalisi ramai menyertakan fenomena betapa kerumunan itu layak diberitakan. Para perengkuh syahwat politik diberi dalil-dalil pengabdian yang memang berkeabsahan. Banyak pihak tergiring dalam belahan kandidat yang lama berlaga pada pilpres 2014. Kubu petahana dan pekalah sama-sama membangkitkan gelora yang menggelegarkan jagad kekuasaan. Petahana rajin membangun “infrastruktur wewenang” agar terus ada dalam genggamnya. Ragam tampilan diunggah dengan pemanis untuk menyeret rakyat terlihat tampil kolosal. Semua segmen diberi balutan profesi sebagai organ yang mengusung dengan beribu sayap pergerakan. Siapa yang berdiri di pinggir jalan diikutsertakan menjadi tim pemenangan dengan agenda tunggal bahwa tidak cukup hanya seperiode untuk mengabdi di Indonesia. Begitu biasa dilontarkan untuk memenuhi angkasa nusantara yang kerap terlanda hujan deras janji yang disemai. Kehendak untuk mempertahankan jabatan dan bila perlu tambah satu jangka waktu lagi memanglah diwerdikan sebagaimana UUD 1945 memberikan dasar hukumnya. Kepemimpinan pun dipatri sesuai dengan aturan permainan agar tidak ada yang terlewatkan. Demikianlah pengharapan itu diubah menjadi cita-cita yang dipanggul oleh hasrat dan kesempatan. Untuk bahasa hukum pidana selalu menyandingkan kata niat dengan kesempatan agar kejahatan dapat dikonstruksi dengan sempurna. Read More…

Kembangkan Comparative Law, 3 Dosen Wakili Indonesia di Kongres Dunia

(hukumonline.com | 010818) Comparative law atau perbandingan hukum adalah bidang kajian ilmu hukum yang telah dikenal sejak paruh kedua abad dua puluh. Sayangnya belum banyak pengembangan serius tentang bidang kajian ini di Indonesia. Tak surut langkah, tiga ahli hukum Indonesia mencatatkan sejarah sebagai wakil Indonesia untuk pertama kalinya dalam The 20th Congress of the International Academy of Comparative Law (IACL) di Kota Fukuoka, Jepang yang dihadiri ratusan ahli perbandingan hukum seluruh dunia. Kongres yang berlangsung 22-28 Juli 2018 lalu memang rutin diadakan setiap empat tahun sekali oleh IACL yang bermarkas di Paris, Perancis. Kongres tahun ini diselenggarakan bekerjasama dengan Kyushu University di Fukuoka, Jepang. Begitu pentingnya forum akademik ini, pembukaan kongres dihadiri oleh Pangeran dari Kekaisaran Jepang beserta menteri, gubernur, dan hakim agung Jepang. Hanya ada tiga ilmuwan hukum Indonesia yang menjadi anggota IACL dan berhak menghadiri kongres bergengsi tingkat dunia tersebut yaitu Prof.Dr.Topo Santoso, S.H., M.H. dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI), Prof.Susi Dwi Harijanti, S.H., LL.M., Ph.D. dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (FH UNPAD), Bandung, dan Koesrianti, S.H., LL.M., Ph.D. dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya. Read More..

Selamat Datang “Jalan Baru” di Surabaya

(surabayapagi.com | 310718) SAYA sangat menikmati fakta kesemestaan Gerhana Bulan Total (GBT) yang berlangsung selama 103 menit pada Sabtu dini hari, 28 Juli 2018. Sebuah gerhana yang menyembulkan gairah spiritual dengan berbondong orang melakukan shalat gerhana berjamaah sambil beriktikaf menjelang shalat shubuh. Pemandangan yang naturalis nan teologis bagi pengiman bahwa semua itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Peristiwa ini mengingatkan saya pada alam yang menjulangkan makna tata surya diawal tahun 2018 ini. Terjadi geliat galaksi yang menyembulkan kuasa Illahi yang sangat fenomenologis: Super Blue Blood Moon, Rabu malam, 31 Januari 2018. Pengakhiran bulan awal 2018 saat itu sangat spektakuler dengan peristiwa Gerhana Bulan saat purnama membulatkan dirinya secara sempurna. GBT sewaktu 31 Januari 2018 niscaya telah disimak penuh harap dan haru yang menyelimutkan ketebalan iman, apalagi GBT 28 Juli 2018 yang akan terulang kembali di tahun 2141. Insya Allah. Sungguh Tuhan mempertontonkan kedigdayaan-Nya menata rotasi Bumi, Bulan dan Matahari untuk saling “menyelinapkan diri” dengan pesan utama: inilah ayat-ayat-Nya yang seharusnya ditafakuri. Ini adalah lahan untuk menggali sains lebih dari yang tengah dicapai umat manusia. Gerhana di kala supermoonatau GBT pun “berjumpalitan” dengan gerak alam: gunung bisa mewartakan letusannya dan laut membuncahkan airnya, gelombang samudra menyuguhkan rob yang dapat melanda. Semuanya dapat menyerta. Sungguh ada narasi kurikulum kehidupan yang menggerakkan pola edar Bumi-Bulan-Matahari, sehingga gerhana terjadi dan Rasulullah Muhammad Saw mengajarkan untuk shalat gerhana. Ini mencerminkan bukti yang sangat kokoh antara ilmu dan Islam dalam segala dimensinya. Read More..

Dicari Sekda ”Jalan Baru“ Jatim

(surabayapagi.com | 260718) GELOMBANG birokrasi Pemprov Jatim menyajikan babak penting di pekan lalu, sekarang dan nanti. Masa transisi dari kepemimpinan Pakde Karwo, Dr H Soekarwo akan beralih ke tangan Bude Khofifah, Khofifah Indar Parawansa-Emil E. Dardak di 12 Februari 2019, sesuai dengan hasil pilkada 27 Juni 2018 yang diselenggarakan oleh KPU. Para pegawai dan politisi mengintip apa yang tengah direntang oleh pemimpin Jatim yang sedang mempersiapkan sosok Sekretaris Daerah, sosok yang menduduki jabatan karier tertinggi dalam ruang birokrasi Pemprov Jatim. Dalam lingkup ini terdapat empat orang calon yang tengah memperebutkan “tahtah organisatoris paling bergengsi” itu. Nama yang sudah mengikuti “seleksi kompetensi” adalah orang-orang yang secara akademik mumpuni karena bergelar doktor semuanya: Heru Tjahjono, Fattah Jasin, Wahid Wahyudi, dan Bobby Soemiarsono. Persona ini di lini birokrasi diniscayakan memiliki kecakapan organisatoris yang tidak diragukan untuk “menggiring bola” tata pemerintahan sedasar administrative reform yang penuh kreasi-inovasi sebagaimana digariskan Pakde Karwo, sekaligus memahami Nawa Bhakti Setya yang diusung Bude Khofifah, Gubernur Jatim periode 2019-2024. Saya menyaksi bahwa Pakde Karwo benar-benar meletakkan diri pada posisi sangat obyektif, berdidikasi pada profesionalitas dan menjunjung tinggi kewibawaan dengan supremasi keilmuan maupun taat norma. Pakde Karwo menempatkan ilmu dan moral sebagai penuntun “arus pencapaian” jabatan Sekda dengan melalui tahapan yang terukur oleh instrumen-instrumen saintis nan yuridis. Beragam ilmuwan dan teknokrat nasional dilibatkan dalam “menggenapi” tugas-tugas Pansel selama asesmen kompetensi kepada mereka yang menyalonkan diri. Keempat orang itu tentu saja tampil secara total dengan pengalaman kinerja yang dapat diuji oleh publik dalam dinamika pemerintahan era generasi milenial. Read More.. Oleh Suparto WIjoyo

Aku Mendengar Tangismu Papua

(surabayapagi.com | 200818) Hee yamko rambe yamko aronawa kombe Hee yamko rambe yamko aronawa kombe Teemi nokibe kubano ko bombe ko yuma no bungo aweade Teemi nokibe kubano ko bombe ko yuma no bungo aweade hongke hongker hongke riro hongke jombe jombe riro hongke hongke hongke riro hongke jombe jombe riro BIARLAH hari ini aku menepikan diskusi berbusa-busa soal Freeport yang kian merangsek untuk terus bertengger menambang kekayaan Papua. Sesak dada dan terasa melangkolis nasib bangsa di kala negaranya tidak bertindak semestinya selaku sang daulat atas seluruh kekayaan bumi dan airnya sebagaimana dituliskan Pasal 33 UUD 1945. Dalam iringan problema yang melingkup tarik ulur waktu seputaran Freeport, aku menggumamkan saja sebuah nyanyian itu. Nyanyian yang bagi anak-anak yang dilahirkan di Bumi Papua pastilah mengenal. Itulah lagu Yamko Rambe Yamko. Kalau ada yang tidak mengenalnya maka kuragukan sebagai warga yang bersemayam dalam keindahan rahim Papua, bahkan Indonesia? Itulah lagu yang kunikmati bukan hanya isinya serta nada maupun intonasi indahnya, tetapi jauh dari itu semua. Lagu itu adalah capaian perjalanan panjang penuh semangat, bukan hanya dengan nada Do=D 4/4, bersemangat, melainkan refleksi jiwa-jiwa penuh gelora yang dimiliki warga Papua. Saudara-saudaraku warga Papua sejatinya tahu dan mengerti betul substansi lagunya yang memberi kobaran hangat dalam hidup. Resapi dan gali sedalam-dalamnya maknanya, luaskan cakrawala gaungnya, tinggikan cuatan impiannya, panjangkan rute perjalannya, akhirnya selami dengan jiwa raga sewaktu mendendangkannya. Anda semua pasti merasakan gelombang cinta menyongsong hari-hari mendatang pada setiap waktunya tentang Papua yang lebih dari siapapun. Anda usahakan dapat bernyanyi bersama dengan kisaran 255 tetua adat yang siap memandu dan memanggul amanat untuk terus menjaga tanah Papua. Tanah leluhur yang memiliki kisah gemilang dalam sejarahnya pada ribuan tahun yang silam. Oleh: Suparto WIjoyo Read More..  

Tebaran Mantra Penjinak Rakyat

Oleh: Suparto Wijoyo* (duta.co | 230718) DEMOKRASI tengah memanggil kerumunan yang disemati kedaulatan hingga tampak gagah perkasa. Suaranya dinyatakan sebagai kesetaraan dengan harga yang sama. Kaum ningrat dan rakyat kebanyakan memiliki  atribut sejajar, tidak ada yang lebih menonjol dari barisan yang harus rapi. Bobot-bibit-bebet dinegasikan oleh demokrasi demi menghormati setiap desah nafas. Seluruh anak manusia ditimang sama kedudukannya dalam ruang demokrasi. Kekuasaan diberi pengertian dari mana dia berasal dan akan kembali. Rakyat dijelmakan dalam serbuk biji-bijian yang harganya tanpa mengenal kondisi yang fluktuatif. Rakyat berdaulat dan atas nama itulah demokrasi dikukuhi tanpa ada alibi atau demokrasi memang dijadikan instrumen  menghipnotis rakyat dengan sebutan pemegang kedaulatan yang tidak terperikan harkatnya. Relasi yang selama ini dikonstruksi dalam figur-figur sesuai dengan tatanan sosial masyarakat diburamkan agar tidak ada jarak di antara mereka meski secara maknawi tampak terang perbedaannya. Tokoh masyarakat hanya dianggap sebagai julukan yang ditampilkan sesuai dengan skenario sang sutradara. Tokoh kampus pun hanya menjadi tokoh karena di mata demokrasi suaranya tidak dapat mewakili seribu pemilih. Dalam lingkup ini antara kesatria dan maling berada pada bilik uji yang berbobot sama di temali timbangan suara. Pada saat coblosan dilakukan secara rahasia sesungguhnya suara pimpinan dan staf tidaklah berbeda. Kuantitas demokrasinya berada pada takaran yang terukur dengan sangat presisif sehingga “guru-murid” itu hanyalah jejak yang hinggap di lubuk moral, bukan pada bejana legalitas demokrasi yang digondeli. Read More..

Sumamburat: Antara Kesempatan dan Hasrat

Oleh: Suparto Wijoyo* (bangsaonline.com | 180718) SEPENDARAN cahaya itu menyembulkan sungging senyum dan lelehan air mata haru yang tumpah di bentara mayoritas Muslimat Jawa TImur pada tanggal 27 Juni 2018 sore hari. Malamnya semakin larut dalam bisikan yang menggemakan komat-kamit doa syukur atas kemenangan paslon nomor 1 dalam kontestasi yang dilansir hasilnya oleh lembaga survei. Hasil hitung cepat itu membinarkan wajah emak-emak yang tengah menunjukkan kehebatannya dalam menghantar Ketua Umum mereka untuk bertahta. Hasil hitung cepat itu semakin kukuh dengan hasil rekapitulasi KPU tertanggal 7 Juli 2018 di Grand City, Surabya, dengan hasil final Khofifah Indar Parawansa – Emil E. Dardak mendapatkan 10.465.218 suara yang setara dengan 53,55%, sementara Saifullah Yusuf – Puti Guntur Soekarno meraup 9.076.014 suara alias 46,45%. Hasil itu dikawal dengan waspada untuk membahasakan rasa gelisah atas kemampuan pemimpinnya. Gelisah yang disemat agar KIP amanah dengan suara yang dipersembahkan kepadanya. Tentu saja para politikus dengan parpolnya sangatlah bermakna dan mereka semua juga berjuang tanpa kenal lelah. Saya menyaksi betapa kaum perempuan bangkit untuk memenangkan KIP, dari ragam parpol yang membopongnya. Read More..

Menakar “Daya Cinta” Surabaya Kepada Gajah Mada

(surabayapagi.com | 170718) AKHIR PEKAN yang membuncahkan jiwa-jiwa kebangsaan terukir dengan beragam pertemuan dengan banyak kalangan. Saya harus menelusuri jejak wilayah Jawa Timur dari areal tengah sampai sisi Timur Selatan hingga melingkar kembali ke titik koordinat kawasan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Riyadlul Jannah di Pacet, Mojokerto. Sekolah yang Mahaputra dan Mahaputrinya berkreasi dengan ekspresi yang memandirikan diri secara ekonomi. Kuliahnya gratis dengan kualitas yang membuat kampus-kampus yang selama ini merasa bertengger gagah musti “tersipu malu”. Saya kumpul dengan banyak guru besar dan ilmuwan berkelas dunia yang memberikan energi ilmunya untuk anak-anak Indonesia esok waktu yang mumpuni sebagai “juragan”, bukan “kacung” yang merendahkan martabat bangsanya. Pada sisi itu saya sangat hormat atas capaian pondok pesantren Riyadlul Jannah yang diasuh KH Mahfudz Syaubari MA. Membanggakan dan mengagumkan atas produk maupun efek ekonomi dari “olah rasa” mahaputra-mahaputri Kampus STIES-nya. Pertemuan yang berlangsung sampai malam berganti hari itu harus dilanjut dengan banyak diskusi saya dengan ragam politisi serta jajaran birokrasi di pemerintah daerah di metropolitan pada hari-hari jelang Kontemplasi ini dikirim ke redaksi. Perjumpaan untuk memberikan pemaknaan pada ikhtiar memberi nama jalan di Surabaya yang mengusung “cita rasa” Pasundan di lorong “gelap sejarah” untuk menjadi “cahaya historikal” nasionalisme adalah momen sangat “menyembuhkan”. Untuk itulah napak tilas dan rengkuhan laku harus saya tempuh bersama tim Perhutani yang “mangasuh” teritorial Madakaripura, tempat di mana “persemayaman arwah” Mahapatih Gajah Mada “dunggah” dalam legenda. Menepikan hati dan mewujudkan “mimpi atas persaudaraan Sunda-Jawa” dengan mendengar “rengeng-rengeng para ahli sisik-melik perjalanan ruh Gajah Mada”, saya tampung dengan penuh “rindu persatuan”. Oleh: Suparto WIjoyo Read More.

Parade Janji Dilanjutkan Lagi

Oleh: Suparto Wijoyo* (duta.co | 16/07) MAKSUD hati hendak istirah sejenak, apa daya demokrasi tak hendak. Ingar-bingar pesta coblosan 27 Juni 2018 lalu belum hilang dalam ingatan, bahkan menimbulkan kesan-kesan yang sangat kronikal bagi para pekalah maupun pemenang di rentang rekapitulasi suara  9 Juli 2018. Agenda penetapan para pemenang oleh KPU dalam rentang pekan ini semakin bersahutan dengan tahapan pemilihan Caleg yang bersamaan dengan Pilpres. Masa pendaftaran Pileg sudah dimulai dan ini pastinya menyemarakkan pesta daulat rakyat yang telah memberikan mandat kepada 171 Paslon kepala daerah yang telah berlalu, meski  Pilkada Kota Makassar harus diulang tahun 2019. Para calon anggota dewan dalam segala tingkatan dan statusnya telah lama berancang-ancang dengan beragam tampilan. Warna-warni kelakuan tertangkap kamera publik betapa  istiqomah politik itu janganlah diharap penuh keabadian. Loncat pagar Parpol dan saling serobot pen-Caleg-an sudah biasa katanya. Rakyat semua lapisan kini mendengar di samping membaca  gemuruhnya janji yang ‘diudar’ mengangkasa. Gemah dan gelapnya terbidik tanpa sekat. Mata telanjang dan kamitan bibir dapat membaca dengan jelas bahwa janji sedang difestivalkan dalam parade kampanye yang akan semakin panjang. Memori khalayak mengenai Paslon yang telah menumpuk janjinya  kembali disuguhkan sebagai  imaji dari Caleg dan Capres yang hendak maju di palagan Pemilu. Mereka yang bertanding itu tidak sungkan untuk menyemai janji walau tempo hari sudah jelas mengingkari, bahkan mengkhianati. Read More…