Skip to main content

Parade Sontoloyo

HARI-hari berlalu dan orang terus termangu atas hadirnya kembali kata sontoloyo dari bentara kekuasaan. Sebuah ekspresi yang amat menyelimut dalam rebakan peristiwa yang menimbulkan riuhnya kegaduhan berupa pembakaran kain yang bertuliskan kalimat tauhid. Situasinya menjadi seperti saling melingkup dalam membangun peradaban yang menelungkupkan batin anak-anak Republik ini. Kata itu pertama kali saya kenal semasa kelas akhir Sekolah Dasar Negeri di kampung halaman, Lamongan. Di usia kelas dasar untuk melanjut ke jenjang sekolah menengah, saya menyantap lahab suguhan dan menikmati dengan membaca buku Dibawah Bendera Revolusi yang menghimpun sekumpulan tulisan-tulisan Bung Karno. Karya besar Bung Karno yang saya “dekap erat” itu terbitan edisi tahun 1964. Inilah referensi yang senantiasa menjadi bahan bacaan saya sewaktu kecil itu dan di dalamnya memuat tulisan Bung Karno dengan judul Islam Sontoloyo, yang sebelumnya di muat dalam Panji Islam tahun 1940. Dengan demikian kata itu muncul dari rongga pejuang, pemikir dan penggerak zamannya, bukan kata yang hadir dari “panggung negara”.

Read More

Sumamburat: Kabar Duka dari Udara

SAAT ini banyak warga dunia menolehkan pandangan dalam degub tragedi dunia penerbangan Indonesia. Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610, rute Jakarta-Pangkal Pinang, Senin pagi, 29 Oktober 2018 dinyatakan jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. 189 insan yang menumpang turut dalam duka yang menyibak langit Republik yang tengah sibuk politik pileg nan pilpres 2019. Mendung yang sedianya dikira hujan hendak turun untuk memungkasi musim kemarau, berubah menjadi lembaran kelam tangis yang menyayat jiwa-raga seluruh anak bangsa yang memiliki ruhani kemanusiaan. Lelehan air mata itu mengalir laksana gulungan ombak yang menerjang dengan lara yang semakin kentara. Anggota keluarga hadir dengan terawang sinar mata yang tampak penuh lelah, sinarnya memunculkan binar sesaknya dada yang mewakili remuk-redam batinnya. Sinar yang meredub dengan kepasrahan yang harus mampu dibaca negara. Pada sisi inilah doa adalah jalan terbaik untuk dilantunkan bagi kemuliaan seluruh para korban dan penguasa membulatkan tekad untuk meringankan beban mereka.

Read More

Jiwa-Jiwa yang Terbang di Karawang

TANGIS dan lelehan air mata terus mengalir di relung derita yang semakin kentara. Kabar yang berseliweran di medsos sudah sangat membanjir atas korban penerbangan. Begitulah yang lazim menghinggap di benak khalayak. Tragedi Lion Air JT 610 pada Senin pagi, 29 Oktober 2018 itu terus saja menyayatkan cerita dengan kepiluan sebagai titik jedah untuk mengingat betapa takdir lebih kuasa terhadap kebaradaan manusia. Getar dada bangsa sungguh sangat terasa menggemurukan jerit yang mengabarkan bahwa ada peristiwa yang berada dalam cerahnya langit Tanjung Karawang Jawa Barat saat itu. Udara kemudian mengabarkan dengan sontak tentang “kepulangan jiwa-jiwa manusia” kepada Sang Pencipta.

Read More

Sumamburat: Presidenku Itu dari Kotaku

GEMPITA pilpres 2019 telah berlangsung dengan masa kampanye yang akan terus tersaji setiap hari. Ragam media memberitakan dengan porsi sesuai seleranya karena obyektivitas tengah direngkuh dalam kelindan kehendak pemiliknya. Biarlah proses ini terus menggeliat meski terkadang sangat menghentak nalar yang membela sikap keberpihakan. Coblosan yang diagendakan tanggal 17 April 2019 memberikan pandom agar rakyat sudi mencermati memuainya cita-cita. Para calon dan pemilih bersinggungan untuk menapaki kekuasaan yang diperjanjikan oleh regulasi yang berkaliber konstitusi negara, termasuk UUD 1945. Untuk meraihnya ternyata membutuhkan kelimpahan energi tanpa batas “akal sehat” mengingat ongkosnya tidak hanya material, tetapi juga sengal nafas. Biarlah setiap gelora dan riak kampanye terus menggumpalkan cerita panjang ke depan. Dan untuk itulah Sumamburat hari ini mengambil jarak sedikit dengan menyajikan telisik yang beritanya tidak sesanter pilpres maupun pileg.

Read More

Tepukan Tangan Sang Resi

NEGERI itu terekam dalam benak zaman beribu tahun sebagai zamrud khatulistiwa. Tanahnya gembur subur dalam petakan sawah, ladang, pekarangan, dan hutan yang menghijaukan bumi. Setiap jengkal ladangnya menyimpan berlaksa harta yang membuat dunia ngiler menatap keelokannya.  Laut dan sungai-sungai selalu bercumbu untuk memuncaki tanda syukur atas kolam kehidupan yang diajangkan  Tuhan.   Read More

Koruptor Melenggang Lagi?

PADA Jumat-Sabtu, 14-15 September 2018 Mahkamah Agung (MA) telah membuat putusan seperti yang diberitakan berbagai-bagai media bahwa mantan koruptor dapat menjadi calon anggota legislatif (caleg). Putusan ini tentu diharap mengakhiri polemik antara Bawaslu dan KPU yang selama ini terpotret bersilang soal boleh tidaknya eks terpidana korupsi menjadi caleg. Sebuah putusan yang menyentak jiwa sebagian besar rakyat Indonesia meski tidak akan ditampik oleh parpol, apalagi caleg yang sedang “berbungah hati” bersama kaum konstituennya.

Putusan yang melengkapi kisah para kepala daerah terpilih meski telah di-OTT KPK dan dijadikan tersangka. Tampilan urusan koruptor ini tampak sempurna bahwa laku korupsi bukan halangan untuk menjadi penguasa. Dan karena itulah dalam kontemplasi ini yang sedianya saya tulis mengenai “kehebatan Kota Surabaya” dalam penyelenggaraan United Cities and Local Govrnments Asia-Pasific yang disingkat UCGL-Aspac. Forum yang amat penting dalam memberikan solusi atas problematika perkotaan dalam skala yang amat serius untuk ditawarkan oleh 800 delegasi yang terdiri atas 300 perwakilan pemda-pemda se Asia Pasifik serta 500 kabupaten/kota serta provinsi di Indonesia.

Read More

Tiada Hormat Tanpa Martabat

RAPAT dewan yang terhormat. Begitulah yang tercatat dalam setiap pidato di gedung dewan, pusat atau daerah. Gedung yang menelungkupi penuh wibawa setiap penghuninya yang diusung membawa mandat rakyat. Penghormatan atas wakil ini mesti dipahami siapa sejatinya pemilik kedaulatan. Sematan kuasa tertinggi inilah yang dimengerti oleh tata krama protokoler bahwa untuk menyebutnya harus dilakukan secara khusuk dengan pangucap ‘Yang Terhormat’. Ungkapan itu menggaungkan amanat yang digenggam selaku pemungut suara secara serentak dengan biaya yang tidak terbayangkan besarnya. Pestanya dirancang sedemikian serunya hingga melibatkan semua alat kelengkapan negara. Tidak boleh ada pihak yang tidak simpati atau menjulurkan lidah sinisnya melalui senyum kecut yang kronis nan akut.

READ MORE

Mengeja Konstitusi Madinah

1440 TAHUN yang lalu adalah tonggak peradaban manusia menemukan supremasi hukumnya. Tentu ini dalam pandangan ketatanegaraan yang membutuhkan pembelajaran obyektif. Pada 1 Hijriyah yang bersamaan dengan 622 Masehi, tepatnya dari rentang 16 Juli-20 September, Rasulullah Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib yang sekarang disebut Madinah alias Kota Nabi. Disinilah konstruksi kenegaraan dibangun dalam konteks Islam yang sangat fundamental. Dalam memperingati 1 Muharram 1440 Hijriyah yang berbarengan dengan 11 September 2018 ini, saya mensyukurinya dengan membuka-buka kembali berpuluh-puluh dan beratus-ratus buku Sirah Nabawiyah,

  Read More

Inilah Jalanku

PERAYAAN Tahun Baru 1440 Hijriyah, 1 Muharram pada Selasa 11 September 2018 amatlah mengesankan. Dihelat beragam elemen yang sangat memikat. Surau-surau, musala-musala, masjid-masjid, madrasah-madrasah, pesantren-pesantren, bahkan “gardu cangkrukan” menebarkan tanda syukur atas hadirnya new year 1440 H. Tadarus dan tadabbur Alquran tampak mencakrawala dengan sentuhan jiwa yang mengalunkan nada-nada cinta kepada kekasih yang tidak pernah dijumpanya: Kanjeng Nabi Muhammad saw. Namanya disebut dengan selawat dan pepujian yang membangkitkan mahabbah tanpa jeda. Pendar cahaya kerinduan kepada sosok agung yang menempuh jalan hijrah itu sedemikian membuncah hingga air mata tumpah dalam lamunan zikir yang dipanjatkan.

Read More

Sumamburat: Penunggang Demokrasi

DEMOKRASI sejak mulanya adalah kerumunan yang meneguhkan kekuatan tanda kuasa sedang digumpalkan. Rakyat terlibat langsung untuk mengatur penyelenggaraan negara kota (polis) yang skala kepentingan maupun wilayahnya tidak selebar abad ke-21 ini. Alun-alun sangat ideal bagi setiap “gembala rakyat” untuk mementaskan peran yang berujung pada singgasana atau selokan perkotaan. Pemerintahan ditata dari kesanggupan untuk mengumpulkan suara yang abtsrak menjadi materi yang selaksa “biji-bijian bilangan”. Kemenangan separuh ditambah satu sudah cukup mengantar siapa saja yang memiliki angka-angka dianggap menang. Maka pemilu merupakan alat untuk menentukan siapa yang dikehendaki secara demokrasi sebagai pemegang otoritas. Read More