Parade Sontoloyo
HARI-hari berlalu dan orang terus termangu atas hadirnya kembali kata sontoloyo dari bentara kekuasaan. Sebuah ekspresi yang amat menyelimut dalam rebakan peristiwa yang menimbulkan riuhnya kegaduhan berupa pembakaran kain yang bertuliskan kalimat tauhid. Situasinya menjadi seperti saling melingkup dalam membangun peradaban yang menelungkupkan batin anak-anak Republik ini. Kata itu pertama kali saya kenal semasa kelas akhir Sekolah Dasar Negeri di kampung halaman, Lamongan. Di usia kelas dasar untuk melanjut ke jenjang sekolah menengah, saya menyantap lahab suguhan dan menikmati dengan membaca buku Dibawah Bendera Revolusi yang menghimpun sekumpulan tulisan-tulisan Bung Karno. Karya besar Bung Karno yang saya “dekap erat” itu terbitan edisi tahun 1964. Inilah referensi yang senantiasa menjadi bahan bacaan saya sewaktu kecil itu dan di dalamnya memuat tulisan Bung Karno dengan judul Islam Sontoloyo, yang sebelumnya di muat dalam Panji Islam tahun 1940. Dengan demikian kata itu muncul dari rongga pejuang, pemikir dan penggerak zamannya, bukan kata yang hadir dari “panggung negara”.
Read More