Skip to main content

Sumamburat: Santri di Garis Tepi

Oleh: Suparto Wijoyo* GEMA Peringatan Hari Santri Nasional III, 22 Oktober 2018 mengiangkan lantun doa dan pengharapan untuk bangsa. Helatannya semakin membuncahkan semangat juang dalam kelambu Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang mengkristalisasi ghirah umat yang amat heroik. Kepahlawanan itu menjadi sangat mistis dengan kobaran revolusioner dari jiwa rakyat yang terpanggil imannya. Mempertahankan negara yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 sebagai ladang pengembangan Islam ternarasikan secara gamblang dalam Resolusi Jihad, hingga siapa pun yang memiliki nada dasar tauhid atasnya niscaya serentak meneriakkan takbir: Allahuakbar. Resolusi Jihad menjadi solusi kebangsaan dan keumatan yang mampu menyelamatkan Republik ini dari invasi Belanda yang memboncengkan dirinya dalam “gerombolan kolonialisme” NICA. Revolusi 10 November 1945 pecah. Read More..

Laut yang Menjemput Maut

INI bukan upacara larung samudera yang diarak dengan semarak, bahkan kadang-kadang sambil berjingkrak meski hal itu tak pernah dilakukan pengkhidmat lautan. Titik air di perairan utara Tanjung Karawang, Jawa Barat, itu sekarang sedang menggelombangkan pesan-pesan yang tidak mudah untuk dipahami, karena lautan tetaplah sebagaimana mestinya: berselimut misteri.  Tragedi terjatuhnya  Lion Air JT 610  Senin pagi, 29 Oktober 2018, dalam rute penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang itu telah “menghantarkan seluruh penumpangnya” untuk memenuhi takdirnya. Pasti tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kabar duka terhadap penumpang Lion Air JT 610 itu mengangkasa  yang bersahutan untuk selanjutnya menukik  secara dramatik ke lautan. Kini pekabaran yang semula dari darat seperiringan  tinggal landasnya pesawat yang hendak “menjejakkan tapak dalam kelembutan udara”  pada akhirnya tertelungkup di “damainya” Tanjung Karawang.

Read More

Sumamburat: Kabar Duka dari Udara

SAAT ini banyak warga dunia menolehkan pandangan dalam degub tragedi dunia penerbangan Indonesia. Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610, rute Jakarta-Pangkal Pinang, Senin pagi, 29 Oktober 2018 dinyatakan jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. 189 insan yang menumpang turut dalam duka yang menyibak langit Republik yang tengah sibuk politik pileg nan pilpres 2019. Mendung yang sedianya dikira hujan hendak turun untuk memungkasi musim kemarau, berubah menjadi lembaran kelam tangis yang menyayat jiwa-raga seluruh anak bangsa yang memiliki ruhani kemanusiaan. Lelehan air mata itu mengalir laksana gulungan ombak yang menerjang dengan lara yang semakin kentara. Anggota keluarga hadir dengan terawang sinar mata yang tampak penuh lelah, sinarnya memunculkan binar sesaknya dada yang mewakili remuk-redam batinnya. Sinar yang meredub dengan kepasrahan yang harus mampu dibaca negara. Pada sisi inilah doa adalah jalan terbaik untuk dilantunkan bagi kemuliaan seluruh para korban dan penguasa membulatkan tekad untuk meringankan beban mereka.

Read More

Jiwa-Jiwa yang Terbang di Karawang

TANGIS dan lelehan air mata terus mengalir di relung derita yang semakin kentara. Kabar yang berseliweran di medsos sudah sangat membanjir atas korban penerbangan. Begitulah yang lazim menghinggap di benak khalayak. Tragedi Lion Air JT 610 pada Senin pagi, 29 Oktober 2018 itu terus saja menyayatkan cerita dengan kepiluan sebagai titik jedah untuk mengingat betapa takdir lebih kuasa terhadap kebaradaan manusia. Getar dada bangsa sungguh sangat terasa menggemurukan jerit yang mengabarkan bahwa ada peristiwa yang berada dalam cerahnya langit Tanjung Karawang Jawa Barat saat itu. Udara kemudian mengabarkan dengan sontak tentang “kepulangan jiwa-jiwa manusia” kepada Sang Pencipta.

Read More