Skip to main content

Mulai Soekarwo hingga Basis Padi, Ramaikan Reuni Akbar FH Unair ke-50

(suarasurabaya.net |  04 Februari 2018 )- Reuni Akbar ke-50 Fakultas Hukum Universitas Airlangga berlangsung cukup meriah di Ball Room Gedung Dyandra Jl Basuki Rahmat Surabaya, Sabtu (3/2/2017) malam. Tampak hadir sejumlah pejabat dan para alumni mulai angkatan 70 sampai angkatan 2017. Tampak hadir Soekarwo Gubernur Jatim, Mayjen TNI Arif Rahman Pangdam V Brawijaya, Brigjen Pol Awan Samudera Wakapolda Jatim dan beberapa tokoh lainnya. Dalam acara itu juga digelar Awarding hingga pementasan per angkatan. Untuk Award diberikan pada 5 tokoh nasional dan 15 nominasi alumni terbaik Airlangga di berbagai bidang. Seperti bidang musik, birokrat, legislatif, militer, Kepolisian dan banyak lainnya. “Ada15 alumni terbaik di beberapa kategori yang mendapat awarding, beberapa di antaranya ada Ketua Mahkamah Agung, nominasi bidang kehakiman, Wakil Jaksa Agung nominasi Kejaksaan, di bidang legislatif, ada mas Dosi di Komisi 3, Kombes Pol Hadi Utomo di bidang Kepolisian. Sedangkan di bidang birokrasi ada Pakde Karwo atau Soekarwo Gubernur Jatim, di bidang musisi ada Rendra basisnya Padi,” kata Dr Syaiful Maarif Ketua Panitia Reuni Akbar ke- 50. Read More..

Pakde Karwo : FH Unair Jadi Sinar Keilmuan di Indonesia

( beritalima.com | Februari 04, 2018) | SURABAYA,beritalima.com – Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga Surabaya terbukti telah menjadi sinar keilmuan bagi pendidikan ilmu hukum yang ada di seluruh Indonesia. Salah satunya dibuktikan dengan banyaknya pemikiran pemikiran besar yang dilahirkan dari FH Unair, yang memberikan kontribusi besar bagi pengembangan ilmu hukum di kancah nasional bahkan di dunia internasional. Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo saat menghadiri Gala Dinner Reuni Akbar Fakultas Hukum Universitas Airlangga ke 50 di Dyandra Convex Surabaya, Sabtu (3/2) malam.Ditambahkan, perkembangan kehidupan masyarakat saat ini mengalami kemajuan yang sangat luar biasa. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap penerapan mata kuliah yang diajarkan di ilmu hukum. Oleh karenanya, Pakde Karwo-sapaan akrab Gubernur Jatim ini mengusulkan agar mata kuliah di FH Unair dievaluasi sesuai dengan kondisi masyarakat hari ini. Read More..

REKLAMASI DAN ARTI PANCASILA

[ surabayapagi.com | ]SILIH berganti problema menyeruak “menindih” warga negara. Sebanyak 378 warga Desa Malasari, Nanggung, Kabupaten Bogor, yang menempati tenda-tenda TNI dan Polri hingga pekan lalu diberitakan membutuhkan bantuan untuk ditangani akibat “Gempa Lebak” 6,1 SR. Pun anak-anak Suku Asmat yang terbaring di bilik rumah dan ranjang-ranjang RS Agats, Kabupaten Asmat, Papua, jelas memerlukan tindakan cepat. Demikianlah yang jua diharapkan oleh orang tua dan balita Pegunungan Bintang, Papua yang berharap layanan kesehatan meningkat. Wilayah Papua yang lautnya kaya biota air, hutannya menyuguhkan aneka ragam buah dan sumber pangan, serta tanahnya adalah “bongkahan emas” yang bermakna surgawi, ternyata rakyatnya miskin dalam kelindan kesehatan yang memilukan. Pasti ada yang salah dalam tata kelola negara atas sumber daya alam Papua. Dimana nilai-nilai Pancasila selama ini disimpan untuk mereka? Oleh: Suparto Wijoyo Read More…

Kemenkumham Pastikan Mulai 2018 Penerimaan M.Kn. Harus Dihentikan

[hukumonline.com | Jumat, 26 January 2018] Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (Dirjen AHU), Freddy Harris, mengatakan pihaknya akan meminta kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk menghentikan penerimaan mahasiswa baru Magister Kenotariatan. Permintaan moratorium ini harus dilakukan mulai tahun 2018 sampai ada hasil evaluasi bersama antara Dirjen AHU dengan Kemenristekdikti soal penyelenggaraan pendidikan kenotariatan di perguruan tinggi. Pernyataan tersebut disampaikan Freddy kepada para notaris peserta Pembekalan dan Penyegaran Pengetahuan Ikatan Notaris Indonesia (INI), Jumat (26/1) di Solo. Freddy mengatakan bahwa selama ini belum pernah ada koordinasi dan evaluasi bersama antara pihak Menristekdikti dengan instansi yang dipimpinnya terkait penyelenggaraan pendidikan kenotariatan. Oleh : Norman Edwin Elnizar Read More…

Nobar Demokreasi

[duta.co | 26 Januari 2018] SOAL PILGUB Jatim, ditayang agar semua dapat menikmatinya.  Berita aktivitas para paslon terus diviralkan, disemliwerkan kepada publik dengan senyum sungging yang mengesankan. Tim sukses dibentuk dengan dukungan teknologi informasi agar dapat bersilaturahmi ke semua jamaah di mana pun berada. Dunia medsos disesaki pekabaran tentang apa yang tengah dipikirkan, diucapkan, dan dikerjakan, bahkan yang masih dalam imaji nan mimpi-mimpi, acap kali diunggah. Ini adalah soal memainkan peran dengan kosa kata: watak dipanggungkan, niat dihelatkan, langkah digerakkan, semua harus tampak sempurna. Tragedi “balita mati” akibat buruknya layanan kesehatan di Asmat dan Pegunungan Bintang, Papua, serta gempa 6,1 SR yang mengguncang Jakarta terekam hanya hadir sekelebatan. Dan untuk kegiatan paslon ditimang akan menggelembungkan gelombang energi yang menyebar sebagai berkah bagi rakyat. Jalanan menjadi ramai dengan keriuhan yang membahana dan kehadiran paslon dinanti meski kadang-kadang tidak dikehendaki apabila tanpa ada “jampi-jampi pakta integritas”. Oleh : Suparto WIjoyo Read More…

Sumamburat: Kerudung Nopo Sarung

[bangsaonline.com | Rabu, 24 Januari 2018] TAKZIM, ketertundukan dan simpuh hormat selalu kuhantarkan kepada para Kiai-kiaku, guru tingkat Langgar dan Masjid di kampung halaman maupun Madrasah serta perguruan-perguruan yang selam ini “mendadar” diriku. Dari beliau-beliau itulah saya mendapatkan pengajaran dan teladan menyeru hikmah. Belajar bersesuci dengan air suci yang menyucikan maupun urusan-urusan fiqih seperti diterangkan Imam Al-Ghazali dalam kitab induknya Ihya Ulumiddin tak elok dilupakanPuluhan kitab Sang Imam kelahiran Kota Thus, Khurasan tahun 450 Hijriyah ini memang menjadi rujukan yang senantiasa diwarnakan kepadaku. Kiai yang tinggal di pedesaan sampai dengan perkotaan yang dipenuhi gedung-gedung angkuh menjulang menyapa angkasa tetaplah ada dalam poros meneduhkan jamaahnya. Beragam pilkada dilintasi para kiai tanpa jeda meski sesekalifitnah membubung dari setiap jejak langkahnya. Oleh: Suparto WIjoyo Read More

Sumamburat: Sedekah Suara

[bangsaonline.com | Rabu, 24 Januari 2018] Oleh: Suparto Wijoyo PILKADA hadir menjadi pesona yang memukaukan pandangan bagi mereka yang gandrung kekuasaan. Hiruk pikuknya dianggap sebagai tembang yang melantunkan merdunya kosa kata. Kampanye digelar guna meneriakkan cita-cita menjemput takdir meraih tahta. Semua orang yang terpancing “syahwat” pilkada tidak segan menuang segala cara untuk mendapatkannya. Jabatan kepala rukun tetangga sampai kepala negara diburu penuh nafsu yang amat kentara. Sampai di sini ingatan digiring menuju tarikh pemikiran Niccolo Machiavelli yang lahir pada tahun 1469 di Florence, Italia yang memperkenalkan buku Il Principe. Karya Sang Pangeran yang ditulis Machiavelli pada tahun 1513 diterima oleh “pecandu kuasa” menjadi “kitab agung” tata cara meraih kekuasaan dengan hukum-hukum spesifiknya: membunuh sahabat seperjuangan maupun mengkhianati teman-teman. Kekuasaan dianggitkan bukan soal agama dan moralitas, melainkan seberkas gumparan kekuatan. Tidaklah heran kalau Napolen Bonaparte dikabarkan selalu menyimpan buku ini di bawah bantal tidurnya. Kekuasaan memang dipanggungkan penuh pijaran kehormatan bagi yang hendak merengkuhnya, sehingga apapun bisa dikorbankan demi untuk mendudukinya. Read More…

Menyaksi Teater Pilkada

PENDAFTARAN pasangan calon (paslon) telah dihelat dalam rentang tanggal 8-10 Januari 2018. Sorot kamera memendarkan kilatan kepada para kandidat yang diusung parpol dengan gempita sambil membawa-bawa bendera yang menandakan identitasnya. Para pendukung membentuk kerumunan melantunkan “pujian” dan “nyanyian” selaksa tengah mempersiapkan diri memasuki gelanggang pertarungan besar.

Hari-hari mendatang diformulasi menjadi saat-saat yang menguras tenaga dalam panggung kampanye yang menawarkan mimpi-mimpi tentang esok hari. Segala bentuk janji yang diformat dalam visi-misi ditebarkan seperti “benih kehidupan” yang menentukan kelangsungan hayat siapa saja. Pilkada diterima sebagai “angkot demokrasi” untuk memperjalankan rakyat menuju titik kumpul menggapai harapan.

Bahasa dan kosa kata akan berseliweran membanjiri jalanan dan menggumpalkan awan yang akan berarak “memuntahkan hujan” rezeki. Seluruh elemen negeri ini digiring berbaris dan melaju dengan garis edar yang ditentukan sampai pada masanya penentuan sang juara.

Read More…

PILKADA SEPERTUBUHAN

GEMPITA tempik sorak membahana dari ruang-ruang pendaftaran paslon di KPU beragam daerah, dengan latar senyum, gelegak tawa, isak tangis, bahkan lelehan keringat yang melambaikan rasa gelisah sambil menumpahkan air mata tanda kecewa. Watak dasar gemulainya tarian politik dalam pilkada di Indonesia amat terwakili dalam gerak gelombang pilgub Jatim. Hentakan gerak yang mengikut gendang dan gema gamelan yang mengiringi acapkali “berselisih” dalam lirih meski terkadang gentanya memekakkan telinga publiknya. Penari yang baik tentu tidak hanya berkesanggupan untuk “mengawal” bunyi musiknya dalam riuhnya tetabuhan, melainkan kepiawaiannya menyimpuhkan diri dalam hening yang ramai.
Siapa komposer, pelaku pergelaran, dan pembelajar musik pastilah saling mengilhami sebagaimana dituang penuh kesungguhan pada buku Recollecting Resonances: Indonesian-Dutch Musical Encounters, suntingan Bart Barendregt dan Els Bogaerts (2016). Sebuah referensi yang senantiasa menyelinapkan memori saya dalam menangkap fenomena pilkada melalui lantun suara sambil “merenungkan gema”. Ternyata ontran-ontran pilgub Jatim tengah memasuki sesi yang mengesankan, sehingga keseluruhan kisahnya ke depan nyaris persis dengan komentar Marie Lu terhadap novel spektakuler, Illuminae: The Illuminae Files_01, karya Amie Kaufman dan Jay Kristoff (2017): “kau akan memasuki alam imajinasi yang tidak akan ingin kau tinggalkan”.
Bukankah kini semua sorot mata kamera telah merekam segala peristiwa yang belum terjamah untuk dinarasikan dalam lembaran warta pilgub Jatim, setarikan pesan diperkenankannya berita “hoax asal yang membangun”. Beberapa jenak waktu selanjutnya adalah beredarnya gambar yang membuat orang tersedak dan tak sanggup beranjak nan berjingkak: “foto paha wanita yang memundak”. Inilah “lukisan kelana gairah” yang ditangkap penuh praduga dengan segala implikasi persepsinya tampak memenuhi rekam peribahasa Jawa: “kriwi’an dadi grojogan”. Potret yang semula sekadar isu pinggiran yang mudah tertelan longsoran hujan rintik semata, berubah menjadi lelehan larva yang menggelumbung laksana air bah yang menerjang memasuki pelataran kekuasaan yang diperebutkan: jabatan gubernur.

Read More…