Pakde Karwo : FH Unair Jadi Sinar Keilmuan di Indonesia
REKLAMASI DAN ARTI PANCASILA
Kemenkumham Pastikan Mulai 2018 Penerimaan M.Kn. Harus Dihentikan
Nobar Demokreasi
Sumamburat: Kerudung Nopo Sarung
Sumamburat: Sedekah Suara
Menyaksi Teater Pilkada
PENDAFTARAN pasangan calon (paslon) telah dihelat dalam rentang tanggal 8-10 Januari 2018. Sorot kamera memendarkan kilatan kepada para kandidat yang diusung parpol dengan gempita sambil membawa-bawa bendera yang menandakan identitasnya. Para pendukung membentuk kerumunan melantunkan “pujian” dan “nyanyian” selaksa tengah mempersiapkan diri memasuki gelanggang pertarungan besar.
Hari-hari mendatang diformulasi menjadi saat-saat yang menguras tenaga dalam panggung kampanye yang menawarkan mimpi-mimpi tentang esok hari. Segala bentuk janji yang diformat dalam visi-misi ditebarkan seperti “benih kehidupan” yang menentukan kelangsungan hayat siapa saja. Pilkada diterima sebagai “angkot demokrasi” untuk memperjalankan rakyat menuju titik kumpul menggapai harapan.
Bahasa dan kosa kata akan berseliweran membanjiri jalanan dan menggumpalkan awan yang akan berarak “memuntahkan hujan” rezeki. Seluruh elemen negeri ini digiring berbaris dan melaju dengan garis edar yang ditentukan sampai pada masanya penentuan sang juara.
PILKADA SEPERTUBUHAN
GEMPITA tempik sorak membahana dari ruang-ruang pendaftaran paslon di KPU beragam daerah, dengan latar senyum, gelegak tawa, isak tangis, bahkan lelehan keringat yang melambaikan rasa gelisah sambil menumpahkan air mata tanda kecewa. Watak dasar gemulainya tarian politik dalam pilkada di Indonesia amat terwakili dalam gerak gelombang pilgub Jatim. Hentakan gerak yang mengikut gendang dan gema gamelan yang mengiringi acapkali “berselisih” dalam lirih meski terkadang gentanya memekakkan telinga publiknya. Penari yang baik tentu tidak hanya berkesanggupan untuk “mengawal” bunyi musiknya dalam riuhnya tetabuhan, melainkan kepiawaiannya menyimpuhkan diri dalam hening yang ramai.
Siapa komposer, pelaku pergelaran, dan pembelajar musik pastilah saling mengilhami sebagaimana dituang penuh kesungguhan pada buku Recollecting Resonances: Indonesian-Dutch Musical Encounters, suntingan Bart Barendregt dan Els Bogaerts (2016). Sebuah referensi yang senantiasa menyelinapkan memori saya dalam menangkap fenomena pilkada melalui lantun suara sambil “merenungkan gema”. Ternyata ontran-ontran pilgub Jatim tengah memasuki sesi yang mengesankan, sehingga keseluruhan kisahnya ke depan nyaris persis dengan komentar Marie Lu terhadap novel spektakuler, Illuminae: The Illuminae Files_01, karya Amie Kaufman dan Jay Kristoff (2017): “kau akan memasuki alam imajinasi yang tidak akan ingin kau tinggalkan”.
Bukankah kini semua sorot mata kamera telah merekam segala peristiwa yang belum terjamah untuk dinarasikan dalam lembaran warta pilgub Jatim, setarikan pesan diperkenankannya berita “hoax asal yang membangun”. Beberapa jenak waktu selanjutnya adalah beredarnya gambar yang membuat orang tersedak dan tak sanggup beranjak nan berjingkak: “foto paha wanita yang memundak”. Inilah “lukisan kelana gairah” yang ditangkap penuh praduga dengan segala implikasi persepsinya tampak memenuhi rekam peribahasa Jawa: “kriwi’an dadi grojogan”. Potret yang semula sekadar isu pinggiran yang mudah tertelan longsoran hujan rintik semata, berubah menjadi lelehan larva yang menggelumbung laksana air bah yang menerjang memasuki pelataran kekuasaan yang diperebutkan: jabatan gubernur.
