Skip to main content

Perspektif Yuridis Kontaminasi Radioaktif

KASUS limbah radioaktif di Perumahan Batan Indah, Tangsel, Banten, merupakan tragedi ekologis aspek ketenaganukliran yang serius. Ini berkenaan dengan kontaminasi radioaktif di sebidang ”tanah permukiman” yang mengandung material logam dan serpihan sesium (caesium/Cs) 137 yang paparannya mencapai 200 microsievert (microSv)/jam. Paparan itu berarti lebih dari 6.600 kali nilai ambang batas radiasi yang ditoleransi: 0,03 microSv/jam. Bahkan, saat penggalian tanah di lokasi, terjadi peningkatan paparan hingga 680 microSv/jam dan turun menjadi 90 microSv/jam sampai ”meluncur” hingga 7 microSv/jam. Radiasi tersebut, menurut kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), bersumber dari zat radioaktif Cs-137. Read More..

Perspektif Yuridis Kontaminasi Radioaktif

KASUS limbah radioaktif di Perumahan Batan Indah, Tangsel, Banten, merupakan tragedi ekologis aspek ketenaganukliran yang serius. Ini berkenaan dengan kontaminasi radioaktif di sebidang ”tanah permukiman” yang mengandung material logam dan serpihan sesium (caesium/Cs) 137 yang paparannya mencapai 200 microsievert (microSv)/jam. Paparan itu berarti lebih dari 6.600 kali nilai ambang batas radiasi yang ditoleransi: 0,03 microSv/jam. Bahkan, saat penggalian tanah di lokasi, terjadi peningkatan paparan hingga 680 microSv/jam dan turun menjadi 90 microSv/jam sampai ”meluncur” hingga 7 microSv/jam. Radiasi tersebut, menurut kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), bersumber dari zat radioaktif Cs-137.

Mengikuti arahan K. Bhushan dan G. Katyal dalam karyanya, Nuclear, Biological and Chemical Warfare (2002), mutlak dilakukan upaya dekontaminasi pada titik netral. Di tahapan ini langkah Bapeten berada pada jalan yang benar dengan berikhtiar mengembalikan ke angka normal 0,03 microSv/jam. Dinamika data yang tersaji kemudian mengungkapkan bahwa pancaran radiasi turun 90 persen jika dibandingkan dengan temuan awal atau tinggal sekitar 14,9 microSv/jam, setara 74,5 kali kondisi normal.

Read More..

Beda Argumen Dewan dan Akademisi Soal Dana Kelurahan Surabaya

Dosen Hukum Administrasi Universitas Airlangga Surabaya, Bagus Oktafian Abrianto berpendapat jika pembagian dana kelurahan di Kota Surabaya tak memerlukan SK wali kota. Pendapat ini berbeda dengan permintaan DPRD Surabaya, yang meminta pemkot mengeluarkan SK agar dana kelurahan bisa turun dan dimanfaatkan dengan tepat. “Hal ini itu beda dengan dana desa yang digembor-gemborkan. Dasar hukum dana kelurahan adalah Pasal 30 Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2018, dan juga Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 130 tahun 2018. Sehingga tak perlu adanya SK,” kata Bagus kepada Ngopibareng, Jumat 7 Februari 2020. Menurut Bagus, SK wali kota hanya dibutuhkan saat pencairan dana serta penetapan pejabat yang bertanggung jawab atas dana miliaran itu. Persis seperti administrasi untuk pengadaan barang dan jasa. “SK itu hanya untuk pencairan. Untuk besaran dan penetapannya tidak perlu SK wali kota. SK pun sifatnya beschikking jadi tidak perlu,” katanya. Read More..

Banjir, Produk Kebijakan Salah Nalar

BANJIR Bandang Terjang Tiga Desa di Bondowoso. Di Tapanuli Tengah, 7 Meninggal, 700 KK Mengungsi. Pemberitaan Jawa Pos (30/1) kian menambah angka-angka statistikal bencana yang dicatat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pertengahan Januari 2020. Total ada 179 kejadian yang terdiri atas 82 puting beliung, satu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 56 banjir, 38 tanah longsor, serta 2 gelombang pasang. Read More..

Sumamburat: Pilkada Tanpa Banjir

(bangsaonline.com | Rabu, 28 Februari 2018 12:45 WIB) TAHUN politik ini seperti sedang mempertontonkan “tubuh publik yang sakit”. Parade orang gila yang mampu membentuk formasi persekusi kiai dipamer tanpa ragu. Episode tragedI “ninja Banyuwangi 1998” sepertinya hendak disulam menjadi “warna” penanda adanya perebutan kekuasaan. Atau itu menjadi titik jedah agar semua istirah betapa rezim ini dituntut sigap dalam menjaga ketertiban umum sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah adalah amanat konstitusi yang tidak boleh dikhianati. Belum lagi urusan orgil dientas dengan tuntas, muncul fenomena “sepak bola Piala Presiden” yang menegasikan Gubernur DKI Jakarta untuk selanjutnya“tradisi banjir”. Tradisi yang muncul di sepanjang aliran sungai, termasuk di Pasuruan berupa derita luapan bah yang bersinambung denganJombang. Read More..

Embung Lumbung Saung Gayung

(surabayapagi.com | ) PADA Jumat 23 Februari 2018 pekan lalu, seorang Guru Besar dari Graduate School of International Development, GSID, Nagoya University, Japan, namanya Prof. Yuzuru Shimada hadir memberikan kuliah tamu kepada Mahasiswa Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga. Beliau selama ini berkenan rutin memberikan pengajaran di Universitas Airlangga. Nyaris setiap tiga bulan sekali dan usai coblosan 27 Juni 2018 akan kembali berbagi ilmu dalam agenda International Conference yang dihelat Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, pada 10-12 Juli 2018. Kuliah Tamu 23 Februari 2018 tempo hari mengambil tema Energy Policy in Japan: In Relation to Environmental Disasters. Soal energi dan kebencanaan lingkungan memang selalu menarik untuk ditilik. Beragam kejadian di Indonesia tidak dapat dielakkan dalam membersitkan kelindan tragedi energi maupun ekologi. Meski kurang relevan tetapi kerap ramai dibincang adalah menyoal “bencana infrastruktur” yang acapkali menghangat sehubungan terjadinya kecelakaan proyek infrastruktur yang mengakibatkan jiwa melayang. Kejadian demi kejadian menyangkut ambruknya infrastruktur belum selesai dieja oleh rakyat, mencuat bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang menerjang Brebes, Jombang maupun Pasuruan. Bahkan jalur Probolinggo-Pasuruan selama 8-10 jam lumpuh total dengan kerugian ekonomi yang pasti sangat membengkak dengan terlambatnya mobilitas orang, barang dan jasa. Read More..

Orgil dan Sepak Boloh

(surabayapagi.com | ) Sejatinya saya lebih menaruh perhatian untuk urusan lain, selaksa agenda pilgub Jatim dalam mengusung isu lingkungan. Tetapi beragam kalangan menyelipkan pesan di belantara pergerakan “formasi orgil” yang merambah ke kampung halaman Lamongan, tentulah menyentak. Sepertinya ada persekutuan orang gila untuk membentuk order (tertib umat) “menikam para kiai”. Orang-orang gila yang memiliki kesadaran tinggi karena bereaksi setelah mendapat teguran. Sebuah realitas yang tidak hanya fenomenologis tetapi sangat sistemis dengan kecenderungan religius. Orgil yang mampu menyasar ulama, bukan yang lain semisal kuli bangunan atau pedagang sayur. Orgil ini mampu  bertindak selektif dan juga pandai bermain peran dengan tampilan meyakinkan. Panggung sosial hari-hari ini mempertontonkan kehebatan betapa orgil mampu tampil meyakinkan. Saya menjadi sangat terkesima dengan aktor orgil dalam menyikapi posisi kiai, dengan aparatur hukum yang dituntut menimang penuh pertimbangan mengingat orgil dianggap dalam tafsir yuridis tidak elok diminta pertanggungjawaban. Tampilan orgil kisahnya  semakin  ganjil: pembunuhan ulama di Jawa Barat yang  juga pernah menimpa keluarga kiai di Jombang di era lama serta menyeruak di kasus “kolor ijo” maupun “Ninja Banyuwangi” tahun 1998. Konteksnya nyaris serupa dalam genderang politik nasional yang menghangat. Merujuk Laporan Tim Pencari Fakta dari KISDI amatlah terang “cerita” pembantaian ulama di Banyuwangi yang “dilakukan orang-orang gila” yang mampu bertindak “tepat” sebagaimana di Lamongan. Read More..

Menyimak Gong Xi Fa Cai

(surabayapagi.com | ) LAMPION-lampion itu bergelantungan memancarkan sinar cahaya yang mengesankan dengan dominasi warna merah cerah nan berbalut kuning harmoni. Suasananya menjadi sangat eksotis meski terkadang ada remang yang menggambarkan rasa gamang yang mistis berseliwer religi. Teguhnya warna merah bukan hanya dalam selubung lampion melainkan alas makan yang tergelar di meja-meja hidangan membuat suasana berselara menyantap suguhan. Cahaya tamaram berkelip menyembulkan panorama yang terasa terang sambil menyimak dongeng-dongen klasik dari para sahabat yang bercengkerama bahwa dalam tradisi Tionghoa, seutas warna merah menyimbulkan sejuta pengharapan. Warna yang mendurasikan narasi positif dalam selongsong mimpi tentang keberuntungan, kebahagian dan kemakmuran. Saya mengangguk menerka pemahaman betapa waktu menjadi areal persaksian dalam perjalanan sebuah peradaban dengan sinyal yang multi pandangan. Amplop angpao adalah penyulam berkah penambah kebajikan buat “anak-anak pelanjut warta” bahwa rasa syukur perlu diekspresikan tetapi bukan sogokan. Para paslon dapat memberi “angpao kebijakan” melalui “amplop visi-misi” yang disodorkan untuk membangun Indonesia. Syukurlah cagub Jatim telah “memasang lampion” dan “melambaikan amplop angpao” berupa Program Unggulan Khofifah-Emil melalui Nawa Bhakti Setya dan Program Andalan Gus Ipul-Puti: 1 Visi, 5 Misi, 3 Strategi, 9 Agenda Program Prioritas, dan 33 Program-Janji.   read more..

Dosen Unair Jadi Anggota Board of Governors IALS

SURABAYA (koran-jakarta.com | Selasa 13/2/2018 ) — Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga, Surabaya, Nurul Barizah, terpilih menjadi satu di antara sebelas akademisi hukum yang tergabung dalam Dewan Gubernur Asosiasi Sekolah Hukum Internasio­nal (Board of Governors International Association ofLaw School/IALS). Saat ini terdapat lebih dari 160 fakultas hu­kum dari 55 negara yang tergabung dalam asosiasi, yang di­bentuk pada 2005 di Amerika Serikat itu. “Tiga tahun terakhir saya memang aktif dalam forum dekan fakultas hukum forum diskusi IALS, baik sebagai pembicara, moderator, atau peserta. Awalnya dikirim e-mail bahwa masuk nominasi, terkejut juga sampai terpilih oleh 85 persen anggota IALS,” ujarnya di Surabaya, Senin (12/2). Nurul menambahkan, selama menjabat anggota tiga tahun ke depan, sudah ada tugas yang menantinya sesuai dengan charter yang dibuat. Salah satunya, mendiskusikan aktivitas yang dikerjakan asosiasi. Read More..  

Mazhab Pembangunan Jatimnomics

(surabayapagi.com | 120218) TANGGAL ini, 12 Februari sangatlah penting artinya untuk disemat khalayak ramai Jatim. Gubernurnya telah menghadirkan mazhab baru model pembangunan yang kini kian kinclong menyedot perhatian banyak pihak, namanya Jatimnomic’s. Praktisi dan akademisi dari beragam negara merespons penuh kekaguman meski dengan kritik yang sangat tematik.Terhadap “puji maupun caci” atas mazhab yang diusungnya, yang tampak adalah, Pakde Karwo menjawabnya dengan senyum yang menebar menjadi buncahan energi lebih inovatif. Leadership Award dan Innovative Government Award (IGA) 2017 yang diterimanya merupakan bukti nyata yang sulit dielakkan betapa kepemimpinannya memang memenuhi fungsinya. Bahkan di Hari Pers Nasional Ke-32 di Padang, Sumatera Barat, Pakde Karwo menerima Pin Pena Emas yang disematkan langsung oleh Menteri Kominfo di hadapan Presiden Joko Widodo, Jumat, 9 Februari 2018. Ya Pakde Karwo … Dr. H. Soekarwo adalah Gubernur Jatim pertama yang dipilih secara langsung dalam mekanisme demokrasi pada 29 Agustus 2008. Beliau dilantik menjadi Gubernur pada 12 Februari 2009 untuk periode 2009-2014. Pakde Karwo terpilih kembali dalam Pemilihan Kepala Daerah pada tanggal 29 Agustus 2013 dan dilantik untuk periode kedua pada 12 Februari 2014 di masa jabatan 2014-2019. Kepemimpinannya selama ini membawa perubahan besar bagi Jatim dengan basis kerakyatan yang tinggi (public-participation). Read More