Orgil dan Sepak Boloh
(surabayapagi.com | Jum’at,23 Februari 2018 | 00:51 WIB) Sejatinya saya lebih menaruh perhatian untuk urusan lain, selaksa agenda pilgub Jatim dalam mengusung isu lingkungan. Tetapi beragam kalangan menyelipkan pesan di belantara pergerakan “formasi orgil” yang merambah ke kampung halaman Lamongan, tentulah menyentak. Sepertinya ada persekutuan orang gila untuk membentuk order (tertib umat) “menikam para kiai”. Orang-orang gila yang memiliki kesadaran tinggi karena bereaksi setelah mendapat teguran. Sebuah realitas yang tidak hanya fenomenologis tetapi sangat sistemis dengan kecenderungan religius. Orgil yang mampu menyasar ulama, bukan yang lain semisal kuli bangunan atau pedagang sayur. Orgil ini mampu bertindak selektif dan juga pandai bermain peran dengan tampilan meyakinkan. Panggung sosial hari-hari ini mempertontonkan kehebatan betapa orgil mampu tampil meyakinkan. Saya menjadi sangat terkesima dengan aktor orgil dalam menyikapi posisi kiai, dengan aparatur hukum yang dituntut menimang penuh pertimbangan mengingat orgil dianggap dalam tafsir yuridis tidak elok diminta pertanggungjawaban.
Tampilan orgil kisahnya semakin ganjil: pembunuhan ulama di Jawa Barat yang juga pernah menimpa keluarga kiai di Jombang di era lama serta menyeruak di kasus “kolor ijo” maupun “Ninja Banyuwangi” tahun 1998. Konteksnya nyaris serupa dalam genderang politik nasional yang menghangat. Merujuk Laporan Tim Pencari Fakta dari KISDI amatlah terang “cerita” pembantaian ulama di Banyuwangi yang “dilakukan orang-orang gila” yang mampu bertindak “tepat” sebagaimana di Lamongan.
Read More..
