PILKADA SEPERTUBUHAN
GEMPITA tempik sorak membahana dari ruang-ruang pendaftaran paslon di KPU beragam daerah, dengan latar senyum, gelegak tawa, isak tangis, bahkan lelehan keringat yang melambaikan rasa gelisah sambil menumpahkan air mata tanda kecewa. Watak dasar gemulainya tarian politik dalam pilkada di Indonesia amat terwakili dalam gerak gelombang pilgub Jatim. Hentakan gerak yang mengikut gendang dan gema gamelan yang mengiringi acapkali “berselisih” dalam lirih meski terkadang gentanya memekakkan telinga publiknya. Penari yang baik tentu tidak hanya berkesanggupan untuk “mengawal” bunyi musiknya dalam riuhnya tetabuhan, melainkan kepiawaiannya menyimpuhkan diri dalam hening yang ramai.
Siapa komposer, pelaku pergelaran, dan pembelajar musik pastilah saling mengilhami sebagaimana dituang penuh kesungguhan pada buku Recollecting Resonances: Indonesian-Dutch Musical Encounters, suntingan Bart Barendregt dan Els Bogaerts (2016). Sebuah referensi yang senantiasa menyelinapkan memori saya dalam menangkap fenomena pilkada melalui lantun suara sambil “merenungkan gema”. Ternyata ontran-ontran pilgub Jatim tengah memasuki sesi yang mengesankan, sehingga keseluruhan kisahnya ke depan nyaris persis dengan komentar Marie Lu terhadap novel spektakuler, Illuminae: The Illuminae Files_01, karya Amie Kaufman dan Jay Kristoff (2017): “kau akan memasuki alam imajinasi yang tidak akan ingin kau tinggalkan”.
Bukankah kini semua sorot mata kamera telah merekam segala peristiwa yang belum terjamah untuk dinarasikan dalam lembaran warta pilgub Jatim, setarikan pesan diperkenankannya berita “hoax asal yang membangun”. Beberapa jenak waktu selanjutnya adalah beredarnya gambar yang membuat orang tersedak dan tak sanggup beranjak nan berjingkak: “foto paha wanita yang memundak”. Inilah “lukisan kelana gairah” yang ditangkap penuh praduga dengan segala implikasi persepsinya tampak memenuhi rekam peribahasa Jawa: “kriwi’an dadi grojogan”. Potret yang semula sekadar isu pinggiran yang mudah tertelan longsoran hujan rintik semata, berubah menjadi lelehan larva yang menggelumbung laksana air bah yang menerjang memasuki pelataran kekuasaan yang diperebutkan: jabatan gubernur.
