Menjemput Takdir Banjir?
Oleh: Suparto Wijoyo*
(duta.co | 2 Maret 2018) MUSIM telah menjadi terdakwa sebagai penyebab banjir. Seluruh warga di sepanjang bantaran Bengawan Solo maupun DAS diminta waspada. Apa yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia diminta waspada. Pun yang tinggal di Bojonegoro, Lamongan, dan Gresik yang areal hidupnya tergenang air seolah melengkapi “pesta air” di Jombang, Pasuruan, bahkan Brebes. Banyak kolega dari Jakarta, Semarang, Purwokerto, Palembang, dan Medan ketika di Surabaya sontak mendapatkan pemahaman kolektifnya bahwa inilah prestasi abadi yang terus dibopong penuh bangga. Titik-titik geografis Surabaya pusat, selatan, dan barat sering berubah menjadi sungai dadakan di kala hujan.
Berbagai media massa mewartakan jua tragedi banjir yang mengancam puluhan provinsi di Indonesia. Dalam skala yang lebih kolosal, banjir telah menyebar di areal 103 wilayah, dan 274 kabupaten/kota berpeluang menyelenggarakan “panen banjir”. Inilah fenomena yang acapkali terjadi setiap musim penghujan. Banjir menjadi tradisi tahunan yang dimaklumi dengan kerugian ekonomi, sosial dan lingkungan melebihi dari yang dapat bayangkan. Moda transportasi yang mengusung laju barang, orang dan jasa tersumbat dengan konsekuensi logis terganggunya sirkulasi kehidupan publik dalam memenuhi kebutuhannya.
Read More…
