Skip to main content

Idul Fitri ”Meleburkan L‘etat C‘est Moi“

(surabayapagi.com | 250618) SELAMA Ramadhan 1439 H, Kontemplasi bermetamorfosis alias mlungsungi menjadi Piwulang yang menakar setiap makna dalam sebuah realitas akli maupun naklinya. Tutur yang menghendak luhur diusung dengan semangat puasa demi derajat yang diidamkan selaksa ayat-ayat-Nya: takwa. Memang puasa Ramadhan itu hanya diperpanggilkan bagi orang-orang yang bertakwa. Selebihnya tidak diberikan kemesraan puasa Ramadhan tetapi hanya sebatas sapaan bahwa inilah bulan yang sangat ajaib itu: terdapat malam seribu bulan yang seperukuran 83-84 tahun,perbandingannya di kancah kalender konvensional. Kin, Ramadhan yang telah mendekap sepanjang waktunya harus beranjak mengambil jarak dengan segenap manusia. Pengambilan jarak yang sangat kondrati untuk mengukur apakah manusia pemuasa tempo hari itu semakin “menginjak” nilai-nilai puasa ataukah justru terus ikut beranjak karena hendak terus merangkak dengan Ramadhan. Ramadhan direngkuhnya berkelanjutan dengan kalkulasibahwa setiap hari pada kesejatiannya agar manusia dapat mempuasakan diri, sehingga tatatan hari inipun dapat berjiwa Ramadhan. Hidup dengan bersukma Ramadhan berarti hidup yang terus lelaku tirakat, mepes rogo, menyuwungkan sukmoguna mengkonstruksi tumindak mulyo. Ramadhan akandisemat dan dihidupkan dalam diri tanpa henti sehingga tiada hari yang lowong mempuasakan jiwa-raga alias tidak hendak rakus lan nggeragas. Oleh Suparto Wijoyo Read More..

Nasionalisme Lebaran Urang Sunda

(surabayapagi.com | 250618) WILUJENG Boboran Shiyam, 1 Syawal 1439 H. Hapunten Lahir Tumekaning Batin. Itulah ungkapan tulus yang kuhantar untuk seluruh keluarga dan handai taulan di Tatar Sunda. Ungkapan yang mengintisari dalam lantun Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Shiyamana waShiyamakum, Kullu’aamiin wa Antum Bikhair, Minal Aidin wal Faidzin.Inilah langgam cinta yang berkelambu tauhid pada periodesasi “orang-orang beriman” terpanggil berpuasa dalam mongso Ramadhan 1439 H. Syawal adalah “panen raya” kemenangan dengan “kurikulum” Shalat Ied berjamaah di lapangan maupun di masjid-masjid. Berbagai titik koordinat kota-kota seluruh dunia terpendarkan manusia yang menyujudkan diri dalam “jalan syahadah” sambil melafalkan takbir, tahmid dan tahlil. Gemahnya mengkristal dalam hati yang akan terus direngkuh dan dirindukan sehingga setiap muslim yang berkesadaran Illahiyah pasti memohon, berdoauntuk dapat dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun berikutnya. Puncak kegemilangan puasa Ramadhan itu ditandai dengan 1 Syawal yang menghadirkan Hari Raya, Hari Kemenangan, Idul Fitri yang mampu menggerakkan “para manusia” berkebutuhan mencari asal-muasalnya, tertuntun menapaki jejak kampung halaman. Tanah kelahiran dirunut kembali sebagai bentuk “tanda keberadaan” manusia yang menggedor “rimba sosial” melalui “revolusi laku” yang disebut mudik. Berpuluh tahun saya senantiasa “mendengar dan mentaati panggilan untuk pulang” ke kampung di mana “darah jabang bayi” tumpah untuk menyapa ruang kehidupan di semesta. Mulai dari mudik ke “desa perabadan” pertama di bangunkan untukku, hingga ke Bumi Parahyangan, tempat istri “menyemai hidup”. Oleh Suparto Wijoyo Read More…

Sumamburat: Menempuh Jalan Kampung

Oleh: Suparto Wijoyo* (bangsaonline.com | 200618) UNGKAP syukur terekspresikan penuh hikmat kebijaksanaan dalam merayakan Hari Kemenangan, Idul Fitri, 1 Syawal 1439 H. Alhamdulillah saya diberi kemampuan oleh-Nya untuk melintas, menjelajah, menempuh kembali jalan-jalan kampung di Jawa. Keberangkatan dimulai dari sebuah desa di Lamongan bergerak beriring menuju Jawa Tengah, Jawa Barat, dari areal Pantura, dan melingkar menuangkan cinta memendarkan paseduluran dengan kolega, handai taulan di seperbagian Banten-DKI Jakarta, sambil melingkarkan hati melalui jalur selatan menuju Yogyakarta dan bersilaturahmi ke banyak keluarga. Saya berikhtiar menyapa dan beranjang sana mengetuk pintu rumah maupun kelambu rindu sukmanya. Senyum mengembang tanda sambungnya jiwa di antara kami semua yang telah melalui tahapan “kurikulum” kehidupan dalam “mata kuliah puasa Ramadhan” yang bersatu dalam lingkar agama dan ragam peradaban memetik kemaslahatan atas ajaran-Nya. Read More…

Bermula dari Gua Hira

(surabayapagi.com | 0706) PERUBAHAN besar sedang dipersiapkan dan peradaban mulia dipancangkan dari sebuah pegunungan. Terdapat tanda-tanda sepermulaan bahwa gunung sejatinya bukan sekadar gumpalan tanah melainkan kristalisasi nilai yang memadatkan materi untuk menjadi paku bumi. Berbagai referensi dapat dirujuk dan berlembar ayat boleh disimak bahwa gunung-gunung itu memanglah peneguh bumi. Gunung itu peredam guncangan sekaligus pembuncah kesuburan, karenanya dari erupsinya, bumi memanen larva bagi kehayatan tetumbuhannya. Dengannya itulah sumber pangan tersedia dan seluruh umat manusia maupun flora-fauna dengan segala jenis primata mampu menjalankan peran kehayatannya. Ada ruang dialog sekaligus menantang daya pikir manusia dengan ungkapan telak: “adakah dalam ciptaan-Ku ini yang tidak seimbang”? Bertadaruslah Alquran agar dapat memanen banyak hikmah, mengingat firman Tuhan itu manifestasi paling kasat mata (“positivisme”) nan paling komprehensif atas ajaran-Nya. Gunung itu menyimpan misteri sekaligus kekayaan inspiratif membangun sejarah. Gunung merupakan makhluk yang pernah ditawari menjadi “khalifah” untuk memakmurkan bumi bersama dengan hamba-hamba lain sebelum Allah SWT menciptakan manusia. Semua menjawab penuh santun tentang “ketidaksanggupannya” menjadikhalifah fil ard, pemimpin di dunia. Namun rekam jejak historisnya, ternyata gunungdiikutsertakan Tuhan dalam mendesain peradaban mulia(akhlakul karimah). Saya menafsir hal ini karenasikap santunnya gunung-gunung itu saat“menghindari mandat berat”dari Allah SWT, hinggagunung tetap terlibat prosesi pembangunan laku yang karim di bumi. Read More..

Dari PLMDH sampai Menjemput Pulung di Galunggung

(.surabayapagi.com | 0506) SEBUAH pekan yang menyajikan banyak kesan. Akhir Mei dan awal Juni memendarkan ragam kegiatan anak negeri yang terpanggil untuk menempuh “jalan tepi” bagi NKRI. Mereka tidak larut dalam gairah menikmati “gaji berlimpah” karena menyuarakan Pancasila atau menyediakan ruang gelimang uang sambil “merapatkan diri pada pemandu kekuasaan” yang tengah membutuhkan dukungan. Kaum pembela disiapkan dan siapa saja yang mencoba untuk “melakukan pengaburan citranya”, bersiap-siaplah dilintasi “gerhana hukum” yang sengaja “diumumkan” pas tengah Ramadhan 1439 Hijriyah. Tokoh yang bersilaturahim dalam jejak langkah umroh pun dicurigai, apalagi tampak sumringah menebarkan semangat dari Tanah Suci yang selalu dirindu pengiman sejati. Optimisme perjuangan meraih kemaslahatan rakyat adalah hal yang konstitusional. Rakyat perlu menjaga daya warasnya agar “mendapatkan tempat yang selayaknya” dalam koridor demokrasi. Kini gelembung kekuasaan itu memuai dengan pudaran yang “menjalar ke mana-mana” hingga sekumpulan orang yang meruhanikan dirinya bagi lingkungan terpanggil menggelayutkan sukmanya untuk berkumpul. Maka hadirlah Perkumpulan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (PLMDH) yang saya sendiri memberikan sebutan Perkumpulan LMDH. Saya memenuhi undangan pendeklarasian Perkumpulan LMDH Jatim karena orang-orangnya tersemat dalam jiwa. Read More..