Skip to main content

Awas, Amplop Pendusta Demokrasi

KINI memasuki masa tenang jelang coblosan 17 April 2019. Sebuah masa yang sejatinya untuk mengendapkan suara sekaligus raungan batin yang selama berbulan-bulan ini teraduk. Para pemilih sudah mafhum hendak memilih siapa dan mandat itu akan sampaikan dengan suara yang lirih di dalam bilik yang sempit untuk dimasukkan kotak di saat yang tersepakati. Ruang publik harus dijaga tetap tenang dan memang inilah masa di mana setiap kita berkewajiban menunjukkan adab. Kampanye selama tujuh bulan terakhir ini amat menyita energi dengan segala konsekuensinya. Hiruk pikuk itu musti dipungkasi dengan slogan yang sudah umum didengar agar pemilu ini terhormat maka berilah pandangan yang terang sambil memposisikan rakyatlah yang berdaulat. Memang rakyat berdaulat dan penyelenggaraan pemilu harus menjaga daulat itu secara terhormat. Maka apabila ada pencoblosan di luar negeri yang baru-baru ini terungkap tidak jujur dan adil, pastilah menggoreskan luka kedaulatan itu. Info yang berkembang di media sudah sangat terang siapa pelaku ketidakjujuran dan ketidakadilan serta pengabai asasluber. Paslon tertentu dicoblos dengan “berjamaah” dengan membawa-bawa partai khusus yang berjejaring nama institusi negara. Ini adalah tragedi demokrasi yang justru dipertontonkan oleh realitas di beranda depan negara sahabat. Laporan dari berbagai negara menunjukkan bahwa ada pihak-pihak yang terdeteksi merancang “keributan demokrasi” dengan main curang secara sembunyi, bahkan terang-terangan sambil menuduh pihak liyan yang menginformasikan adanya “penipuan demokrasi” justru dikejar-kejar. Read More..