Lindu dan Pemilu 2019
LINDU itu kukenang sejak masa kanak-kanak dan biasa disetiap waktunya selalu menyuguhkan gentar dalam gelisah agar setiao orang segera merebahkan diri kepada Illahi. Bumine goyang yang disertai seruan ada gempa dalam bahasa sekarang, sejatinya meneguhkan iman dengan semburat umat ke luar rumah menuju langgar-langgar, surau-surau, masjid-masjid. Di rumah ibadah inilah kami merasa tenang dan seolah Gusti Allah menjawab seruan doa manusia yang gupuh atas lindu yang “menari” di wilayahnya.
Kami biasanya menyujudkan diri dalam telungkup pasrah yang paling Illahi sewaktu lindu menggoyang meja makan, perabot rumah sambil menyaksi lampu bergelantungan itu “berjoget” dalam ketidakteraturannya. Demikianlah gempa kecil-kecil itu acapkali kami rasakan sewaktu saya masih bocah di kampung-kampung Lamongan. Hanya saja Lamongan memang bukan daerah yang kerap diserbu gempa tetapi banjir dan kekeringanlah yang selalu rajin “anjangsana” setiap tahunnya. Persis seperti hari-hari ini di desa-desa di Jawa terdapat lolongan petani atas langkanya air dan ini tidak pernah mencuatkan demonstrasi besar-besaran, karena petaninya tangguh untuk merelakan dirinya antri air tengah malam dengan tetap menjaga keguyuban.
Read More
