Skip to main content

Korupsi dan Don Quixote

EMPAT hakim PN Medan, Sumut dan seperangkat staf beserta pengusaha properti pada 28 Agustus 2018 kena sergap  OTT KPK. Semua digelandang dalam sorotan kamera yang membanjiri medsos yang selanjutnya sontak nan seketika sebelum akhirnya sampai di Gedung KPK. Publik terhenyak setarikan nafas tidak mampu beranjak dari tayangan mengenai pengawal hukum yang kembali terserat arus bah korupsi. Meski baru terduga-tersangka, belum terpidana, namun awam sudah menjatuhkan vonis betapa kelam dunia hukum dan ternodanya lembaga yang membopong putusan berdasarkan keadilan atas nama Tuhan. Meski antara hakim dan hukum itu berbeda tetapi narasinya adalah sama bahwa ada internalisasi nilai yang diabaikan oleh hasrat yang tiada batas untuk menghindar dari segepok uang.

Sorot tajam dengan ungkapan nyinyir yang diarahkan kepada dunia hukum yang oknumnya banyak terkena OTT KPK mengingatkan saya dengan keraguan yang terus menjadi tanya atas novel A Confession karya Leo Tolstoy yang terbit 1882. Para hakim dan aparat apa pun selayaknya membaca novel ini karena menggungah tujuan hidup kita di ranah dunia yang semakin materialistik. “Kuanggap definisi hukum itu lebih keras dan menjadi jelas bagiku bahwa mungkin tak ada hukum tentang perkembangan yang tak ada akhirnya. Menjadi jelas untuk mengatakan, di ruang dan waktu tanpa batas, semuanya  berkembang menjadi lebih sempurna dan semakin sempurna adalah berbeda”.

Read More