Skip to main content

MESKI KULIAH SAMBIL BEKERJA, VUNIETA BERHASIL MENJADI WISUDAWAN TERBAIK MAGISTER KENOKTARIATAN PERIODE MARET

Humas(02/04) | Wanita kelahiran tersebut sukses menjadi wisudawan terbaik magister kenoktariatan periode Maret setelah berhasil meraih IPK 3.80. Meski begitu selama menempuh masa studi  S2 Vunieta menghadapi banyak tantangan yang datang, baik dari faktor  internal dalam diri saya maupun faktor eksternal dari lingkungan sekitar. Namun, hal yang sangat menantang baginya adalah belajar bagaimana melakukan management waktu dengan tepat. Oleh karenanya pagi Vunieta menjadi seorang karyawan dan malam dia menjadi seorang mahasiswa. Secara faktor internal, tantangan kedua Vunieta dalam melakukan management pikiran agar tidak stress ketika ada permasalahan di pekerjaan maupun menyelesaikan tugas ber-deadline. Disamping perkuliahan dimalam hari dan bekerja di pagi hari, terkadang Vunieta melakukan upgrade ilmu maupun skill baik melalui seminar ataupun workshop yang tidak terbatas pada bidang hukum. Mungkin dapat terbilang di masa S2 Vunieta tidak “seaktif” masa S1 Vunieta dalam mengikuti kompetisi dan organisasi, oleh karena keterbatasan waktu. Namun, Vunieta bersyukur dalam masa studi, dia dan rekannya bisa menyelesaikan Jurnal dengan index Sinta 2 pada Universitas Sebelas Maret. “Bagi rekan-rekan saya yang menempuh pendidikan, khususnya S2, alangkah lebih baiknya tidak hanya mengandalkan materi diperkuliahan, lebih baik jika memungkinkan juga diikuti dengan bekerja. Meski diawal masa perkuliahan saudara mengalami stress dan kesulitan, itu adalah hal yang wajar, karena dalam bekerja kita mengerti praktik sesungguhnya, dan akan menjadi lebih mudah dalam mengimplementasikan saat perkuliahan” Ujar Vunieta.

Vunieta mengambil judul Tesis “Klausul Persetujuan Bank atas penjualan Objek Jaminan Fidusia berupa Benda Persediaan”. Mengapa Vunieta tertarik dengan judul tersebut? Fokus studi dan karier Vunieta kedepan bahwa dia mensyaratkan menjadi seorang contract drafter dan yuris yang profesional, dengan demikian wajib baginya untuk menyoroti permasalahan hukum yang membuat ketidakpastian dalam praktik perbankan. Dengan adanya kajian melalui penulisan tesisnya,  paling tidak memberi manfaat pada contract drafter lainnya sebagai suatu pertimbangan.

Awalnya, dia tidak berminat untuk menempuh pendidikan S2. Yang dia inginkan hanyalah langsung bekerja dan bekerja. Namun, dengan masukan dari kedua orang tua dan pasangannya, Vunieta merenungkan dan berpikir ulang untuk mengambil studi S2 di Universitas Airlangga. Awal yang sangat sulit, terutama menjaga kesehatan dan berjuang menjadi anak rantau dikota Surabaya. Vunieta bersyukur bisa menjalankan kedua nya (bekerja dan kuliah) dalam satu waktu. Saat ini Vunieta bekerja di suatu kantor Notaris di Surabaya pada pagi hari. Malam harinya terkadang membatu kedua orang tuanya untuk melakukan pekerjaan yang kiranya mengalami kendala, serta mengikuti beberapa tes/ujian/seminar terkait dengan program studi kenotariatannya.

Setelah usai masa S2 ini, masih banyak dan jauh langkah Vunieta untuk mencapai profesi impiannya. Tentunya dengan bekerja dan jika Yang Maha Kuasa berkehendak lebih, Vunieta tertarik untuk menempuh penididikan lebih jauh.

Kontributor: Unit Sistem Informasi FH UNAIR/Sinto

SELESAIKAN TESIS TENTANG PEMINDAHAN IBU KOTA, FIKRI HADI KELUAR SEBAGAI LULUSAN TERBAIK MAGISTER ILMU HUKUM PERIODE MARET

Humas(02/04) | Selama 3 semester menempuh studi di Magister Ilmu Hukum Universitas Airlangga Fikri panggilan akrab beliau alhamdulillah diberikan kelancaran selama masa studi tersebut. Salah satu hal yang sempat menjadi kendala atau beliau lebih suka menyebutnya sebagai tantangan adalah kewajiban publikasi ilmiah terakreditasi (yang menjadi salah satu syarat sidang Tesis sekaligus kriteria penilaian Tesis). Hal ini mengingat Universitas Airlangga adalah salah satu World Class University yang tentu sangat mendepankan jumlah publikasi ilmiah terakreditasi.

Fikri aktif di Yayasan yang bergerak di bidang sosial keagamaan di Provinsi Jawa Timur, yakni PERSATUAN AL-IHSAN, dan beliau sebagai Sekretaris Jenderal pada struktur Pimpinan Pusat. Selain itu, beliau juga ikut dalam Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) dosen di salah satu Perguruan Tinggi Swasta ternama di Surabaya. Salah satu diantara prestasi yang paling dikenang dan membanggakan adalah ketika menjadi Juara III pada Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) pada Oktober 2018.

Judul Tesis Fikri adalah “KEWENANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TERKAIT PEMINDAHAN IBU KOTA RI”. Alasan memilih judul tersebut adalah: pertama, karena permasalahan permasalahan dalam Tesis tersebut sesuai dengan konsentrasi yang beliau tekuni, yakni konsentrasi Pemerintahan; kedua, karena permasalahan pemindahan ibu kota tersebut menjadi isu yang hangat dan sedang dibahas, maka beliau sebagai akademisi ingin memberikan sumbangsih pemikiran berdasarkan keilmuannya. Topik pada Tesis ini menekankan pada kajian kewenangan Presiden dalam hal ihwal pemindahan ibu kota, baik dari sudut pandang kajian Hukum Tata Negara maupun Hukum Administrasi Negara. Selain aktivitas di Yayasan, beliau mengisi aktivitas dengan menjadi asisten dosen pada salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya. Kedepannya beliau berencana melanjutkan studi S3 dan berharap bisa mendapatkan beasiswa yang beliau incar.

Salah satu perjuangan dalam menyelesaikan masa studi ketika di Universitas Airlangga adalah ketika proses penyusunan Tugas Akhir atau Tesis. Isu yang beliau angkat dalam Tesis tersebut tergolong baru, bahkan sejumlah dosen menganggap bahwa Tesis ini lebih tepat dibahas pada tingkatan Disertasi. Dikarenakan isu tersebut merupakan hal yang baru, beliau sempat kesulitan mencari literatur yang sejalan dengan isu tersebut seperti sejarah ketatanegaraan Indonesia pada masa lampau dan perbandingan dengan negara lain. Beruntung, Universitas Airlangga mempunyai fasilitas yang sangat mendukung penelitian mahasiswanya. Pada 30 November 2019, Fakultas Hukum UNAIR mengadakan seminar yang bertemakan pemindahan ibu kota yang sangat membantu dalam penyelesaian Tesis beliau. Selain itu baik di tingkat Fakultas (koleksi khusus) maupun Perpustakaan Universitas mempunyai sejumlah literatur yang lengkap, termasuk literatur dengan bahasa asing, sehingga juga mempermudahkannya dalam menyelesaikan Tesis.

 Terakhir beliau memberikan beberapa tips untuk mahasiswa yang sedang melanjutkan studinya. Tips untuk mahasiswa yang saat ini tengah menempuh studi di Universitas Airlangga: disamping belajar yang tekun serta perbanyak membaca, juga tingkatkan softskill dan mencari pengalaman baru. Universitas Airlangga mempunyai banyak wadah untuk hal tersebut baik melalui seminar, workshop ataupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Selain itu, demi kelancaran studi di Universitas Airlangga, hendaknya mahasiswa telah mempersiapkan Publikasi Ilmiah Terakreditasi serta Test Bahasa (di UNAIR disebut sebagai ELPT) sejak awal masa studi. Selain dikarenakan Universitas Airlangga merupakan World Class University yang mengedepankan jumlah publikasi, hal tersebut diatas juga merupakan salah satu syarat kelulusan serta bagian dari kriteria penilaian terhadap Tugas Akhir mahasiswa.

Kontributor: Unit Sistem Informasi FH UNAIR/Sinto

AKTIF SEBAGAI PENEGAK HUKUM, YULIATO JADI WISUDAWAN TERBAIK DOKTOR ILMU HUKUM

Humas(02/04) | Sebagai seorang aparatur sipil negara, Yulianto, dituntut untuk selalu siap dalam mengabdikan diri. Sejumlah profesi, terutama yang berkaitan dengan bidang penegakan hukum pernah dilakoninya. Namun, hal itu tidak lantas menghalanginya untuk menuntaskan pendidikan di perguruan tinggi dengan predikat wisudawan terbaik. Melalui disertasi berjudul Permufakatan Jahat dalam Tindak Pidana Korupsi, Yulianto sukses mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,84. Pemilihan topik tersebut didasarkan atas pengalamannya dalam menangani perkara korupsi Papa Minta Saham yang menyeret mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI), Setya Novanto.

Dalam disertasinya, Yulianto mengulas mengenai dugaan pelanggaran pada Pasal 15 Undang-Undang (UU) Tipikor tentang Permufakatan Jahat yang dilakukan oleh Setya Novanto. Ketika itu, politisi yang telah lama menjadi anggota DPR ini melakukan uji materiil terhadap pasal tersebut ke Mahkamah Konstitusi (MK) melalui kuasa hukumnya. “Alhamdulillah, selama menempuh pendidikan dari sarjana hingga doktoral, tidak ada hambatan dan kendala yang saya alami. Justru, saya mendapatkan banyak pembelajaran yang berdampak positif pada kegiatan sehari-hari,” jelas lelaki kelahiran Banyuwangi itu. Deretan penghargaan yang diraihnya selama mengabdi di bidang penegakan hukum seolah membuktikan bahwa kuliah bukanlah sebuah hambatan untuk tetap mengukir prestasi.

“Selain itu, saya juga pernah meraih penghargaan lain, yakni Prestasi Istimewa Peringkat III Diklat 2018 Kepemimpinan Tingkat II, mendapat penghargaan dari presiden saat menjadi Korwil CDM ASEAN Paragames, serta menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Tipe B Terbaik peringkat 1 se-Indonesia dalam penanganan tindak pidana korupsi,” tambahnya. Kini, bapak tiga anak itu meneruskan karirnya sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Sulawesi Barat. Meskipun begitu, Yulianto menegaskan jika dirinya tidak ingin berhenti menggali pengetahuan, sekaligus terus belajar agar dapat menjadi contoh yang baik bagi aparat penegak hukum lainnya maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. “Pesan saya kepada teman-teman mahasiswa yang masih menempuh program sarjana, magister, ataupun doktoral, harus tetap semangat, pantang menyerah, dan yang paling utama adalah berdoa, serta meminta restu pada kedua orang tua,” pungkas Yulianto.

Sumber:

 unairnews.ac.id

http://datunkejatisulbar.com/

Kontributor: Unit Sistem Informasi FH UNAIR

SERING MENANGI BERBAGAI LOMBA, AVE MARIA FRISA KATHERINA JADI WISUDAWAN SARJANA TERBAIK HUKUM UNAIR

Humas(27/03) | Ave Maria terpilih menjadi wisudawan terbaik hukum unair program studi sarjana. Tentu ini merupakan sebuah capaian yang sangat membanggakan mengingat kesibukan Ave diberbagai aktivitasnya. Selama aktif sebagai mahasiswa Ave dikenal sebagai mahasiswa yang prestatif dan organisatoris. Ave mengikuti internal moot court competition tahun 2016 ketika menjadi mahasiswa baru. Lalu Ave juga mengikuti beberapa organisasi seperti Komunitas Peradilan Semu, Asian Law Student Association, dan Masyarakat Yuris Muda Airlangga. Ave juga mengikuti beberapa kepanitiaan yang diadakan organisasi-organisasi tersebut. Ave juga pernah menjadi anggota BEM FH pada tahun 2017. Pada tahun 2018 dan 2019 Ave mengikuti beberapa lomba untuk mencoba melatih kemampuan hard skill dan softskill, yakni National Moot Court Competition Tjokorda Raka Dherana V dan National Debate Competition Ubaya Law Fair 2018,  serta National Debate Competition I. J. Kasimo 2019. Pada tahun 2019, Ave juga mencoba melatih kemampuan berbahasa dan presentasi dengan mengikuti dan menjadi presenter di beberapa konferensi, diantaranya adalah International Conference of State Finance and Accountability oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan International Law Conference (i-NLAC) 2019. Ave juga melakukan kegiatan magang pada tahun 2019 di Kantor Wilayah Jawa Timur Kementerian Hukum dan HAM sebagai peserta magang divisi fasilitasi pembentukan produk hukum daerah dan di SmartLegal.ID sebagai paralegal intern untuk merasakan penerapan hukum di lingkungan pekerjaan. Selain itu Ave juga aktif  menulis beberapa publikasi. Meski sering menjuarai berbagai kompetisi namun Ave sebelumnya mengalami banyak kegagalan. Meskipun lebih banyak kegagalan, Ave mensyukuri proses yang sudah terjadi dan mensyukuri juara yang telah diraih.

Ave menyelesaikan studinya dengan menulis skripsi berjudul Penerapan Doktrin Unjust Enrichment terhadap Saldo Nasabah yang Berlebih Akibat Error System Bank. Ave mengambil judul tersebut karena memang tertarik pada hukum bisnis dan doktrinnya menarik dikaji, pun belum ada pengaturan mengenai doktrin tersebut secara komprehensif di Indonesia, namun sebenarnya Ave menyayangkan belum banyak yang mengupas penerapan doktrin tersebut. Sebagai wisudawan terbaik Ave pun memberikan tips kuliah untuk mahasiswa yang sedang menempuh kuliah yaitu sebagai berikut:

  1. ora et labora = berdoa dan bekerja; berdoa dan bekerja harus kumulatif dilakukan, karena terkadang ada faktor yang memang tidak bisa kontrol yang mempengaruhi perkuliahan, sehingga hanya bisa berdoa untuk yang terbaik. Namun, berdoa saja tentu tidak cukup, karena tidak ada cita-cita yang dapat diraih hanya dengan mengedipkan mata, melainkan dengan usaha, ketekunan, dan kerja keras.
  2. Kuncinya adalah berani untuk keluar dari zona nyaman dan cobalah melebarkan sayap melalui beberapa organisasi/kegiatan apapun yang tepat untuk mengasah potensimu.
  3. Terus belajar, karena akan selalu ada hal yang belum diketahui dan jangan takut akan kegagalan, karena kegagalan juga media belajar. Sehingga, pastikan kegagalan bukan merupakan alasan untuk tidak mencoba suatu hal yang merupakan minat/bakat. Always trust the process

Meskipun dalam perjalanannya sebagai mahasiswa meraih berbagai kesuksesan namun tentu Ave mengalami berbagai kendala. Kendala yang dihadapi selama menempuh studi S1 yang “tricky” adalah melakukan time management. Cara mengatur waktu itu mudah, tapi disiplin terhadap waktu yang sudah diatur itu yang sedikit susah, karena mungkin banyak faktor eksternal yang dapat mengubah pengaturan waktu yang sudah dibuat. Sehingga, menjadi disiplin dan fleksibel harus diatur secara seimbang, mengingat target yang dicapai juga tidak sedikit. Terlebih, ketika banyak deadline mata kuliah, namun ada pula deadline dari aktivitas di luar kuliah, misalnya harus melakukan sparing debat, belum ada materi yang dibawakan, dan tugas kuliah yang baru diberi hari itu juga serta harus dikumpulkan besok. Memang bukanlah tidak mungkin untuk menyelesaikan semuanya, namun perlu tenaga yang lebih untuk menyelesaikan keduanya tepat waktu. Sehingga, disiplin waktu dan strategi untuk menentukan prioritas merupakan hal yang sangat penting.

Kontributor: Unit Sistem Informasi FH UNAIR/Sinto

3 MAHASISWA FH UNAIR JUARAI ALSA INDONESIA LEGAL REVIEW COMPETITION

Humas(24/03) | ALSA LC UNAIR sukses meraih juara 1 dalam ALSA Indonesia Legal Review Competition. Rebecca Mariana, Danial A. Futtaki dari angkatan 2017 dan Raymod Jonathan dari angkatan 2018 berhasil mengalahkan peserta dari Universitas Gajah Mada yang menempati posisi kedua dan Universitas Indonesia yang menempati posisi ketiga. Pencapaian ini tentu membanggakan mengingat peserta dari universitas lain tidak kalah kompetitif namun ALSA LC UNAIR mampu membuktikan bahwa mereka bisa menjadi yang terbaik.

 ALSA Indonesia Legal Review sendiri merupakan kompetisi guna wadahi kemampuan menulis dalam menuangkan argumen dan analisis hukum sebagai kemampuan yang penting untuk dimiliki oleh mahasiswa Fakultas Hukum. Kegiatan ini diadakan tidak hanya bagi seluruh anggota ALSA Indonesia namun juga terbuka bagi mahasiswa hukum di Indonesia. Kompetisi ini diharapkan mampu untuk meningkatkan minat mahasiswa Fakultas Hukum di Indonesia dalam menulis sebuah karya ilmiah sembari meningkatkan kemampuan mereka dalam menganalisis dan berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan terkait tema yang diangkat. Terhadap Legal Review yang diterima akan dilakukan blind review oleh ahli hukum dan kemudian berdasarkan penilaian yang dilakukan, akan dipilih 3 (tiga) Legal Review terbaik.

Sebagai pemenang mereka tentu senang bisa meraih capaian itu dan senang juga bahwa kasus yang dibawa itu memang dianggap perlu untuk dipantau dan terus diperjuangkan. Kedepannya mereka berharap semoga lomba-lomba seperti ini bisa menggaet minat banyak mahasiswa supaya wawasan tentang hukum tidak hanya sebatas teori, tapi juga secara praktisnya melalui analisis hukum.

Kontributor: Unit Sistem Informasi FH UNAIR

ANGKAT TEMA MASYARAKAT HUKUM ADAT TALANG MAMAK, MAHASISWA FH UNAIR RAIH BEST PAPER ALSA INDONESIA

Humas(18/03) | Prestasi akademik kembali ditorehkan oleh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga (FH UNAIR). Tiga mahasiswa FH UNAIR yakni Dania Shofi M, Ulfah Septian Dhika, dan Atiqoh Farhan Maulani berhasil mendapatkan kategori Best Legal Opinion (LO) Competition yang diadakan oleh Asian Law Student Assotiation (ALSA) Indonesia. Kategori Best Legal Opinion itu diumumkan pada Minggu, (1/3/2020).

Dalam perlombaan tersebut delegasi, UNAIR mengangkat tema Masyarakat Hukum Adat Talang Mamak dan berhasil mendapatkan Juara I Best LO mengalahkan beberapa universitas yang ada di Indonesia, seperti Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, dan beberapa universitas lain.

Atiqoh Farhan Maulani yang akrab disapa Iqoh mengungkapkan bahwa pilihan tema yang diangkat dia dan tim adalah karena masih belum banyak pihak yang menulis. Menurutnya, tema itu menarik untuk digali lebih dalam.

“Jadi kenapa tertarik membahas tema itu karena belum banyak yang menulis tentang Masyarakat Hukum Adat Talang Mamak. Dan memang isu hukum adat ini menarik untuk dikaji, apalagi masyarakat juga belum banyak yang tahu tentunya. Oleh karena itu kita angkat tulisan itu supaya mengenalkan juga ke masyarakat secara luas,” ungkapnya.

Dalam penyusunan LO tersebut Iqoh mengaku sedikit mengalami kesulitan. Terlebih karena tema tentang hukum adat terbilang cukup sulit untuk mendapatkan bahan bacaan maupun informasinya.

“Kalau untuk kesulitannya itu di bahan-bahan bacaan sih, yang kurang. Karena susah untuk menemukan buku atau jurnal-jurnal yang secara khusus membahas tentang Masyarakat Hukum Adat Talang Mamak,” ujar mahasiswa semester enam itu.

“Tetapi untungnya kami mendapat bantuan dari dosen-dosen yang memang ahli di bidang hukum adat. Jadi sangat terbantu,” tambahnya.

Sebagai penutup Iqoh berpesan kepada mahasiswa FH untuk jangan sampai melewatkan kesempatan untuk mengikuti perlombaan. “Pesen aku buat teman-teman FH jangan takut ambil kesempatan ikut lomba. Karena kalau kita tidak mau mencoba kita nggak bakal bisa mengukur kemampuan kita sejauh mana. Intinya sih, coba aja dulu dan tetap lakukan yang terbaik,” pungkasnya. (*)

Penulis : Sugeng Andrean

Editor : Binti Q Masruroh

MAHASISWA FH UNAIR SABET JUARA I LOMBA DEBAT NASIONAL

Humas(09/03) | Delegasi Fakultas Hukum Universitas Airlangga (FH UNAIR) yang tergabung dalam Badan Semi Otonom Masyarakat Yuris Muda Airlangga (MYMA) lagi-lagi menorehkan prestasi yang membanggakan di kancah nasional. Mahasiswa FH UNAIR tersebut berhasil menyabet Juara I dalam lomba debat tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Parahyangan tanggal 29 Februari  lalu.

Persiapan yang dilakukan oleh tim debat yang beranggotakan Ezra Tambunan (2018), Ardiana Noventri (2018), Qana’ah Noor Maajid (2018), Rahajeng Dzakariyya Ikbar (2019), Ika Putri Rahayu (2019), Stefania Arshanty (2019) tersebut memakan waktu selama satu bulan, yakni dari tanggal 29 Januari hingga 29 Februari 2020.

Ezra Tambunan ketua delegasi lomba mengungkapkan ada tiga mosi dalam babak penyisihan lomba debat saat itu, yakni Pemberlakuan Hukum Adat dalam RKUHP, Penghapusan Outsourcing Sistem dalam UU Ketenagakerjaan, dan Pemblokiran Akses Internet Oleh Negara dalam Rangka Menangkal Hoax, dan  Menjaga Keamanan Negara. Sementara di babak final mosinya yaitu Ratifikasi Optional Protocol to the Convention Against Torture oleh Negara Indonesia.

Ezra sapaan akrabnya, juga mengungkapkan terdapat ketimpangan dalam mosi tersebut yang terkadang membuat susah.

“Untuk mosinya kalau menurutku agak timpang. Kadang pihak pro gampang banget, giliran kontra karena nggak status a quo jadi susah,” ungkap Ezra.

Ezra juga mengungkapkan banyak suka dan duka yang dialami dalam mempersiapkan lomba debat kali ini. “Kalo untuk suka duka tentu ada ya. Dukanya itu mungkin harus bagi waktu antara kuliah dan latihan, jadi nggak ada waktu main, harus menyiapkan semuanya dobel mulai dari energi, pikiran, dan tenaga,” ucap Ezra.

“Untuk sukanya, tentu pas dapat juara ini bahagia banget. Terus juga sukanya bisa dapat ilmu baru, dan juga bisa membawa nama baik kampus di kancah nasional,” lanjut mahasiswa semester empat tersebut.

Ezra berharap, kemenangan timnya ini bukanlah akhir, melainkan awal dari kemenangan-kemenangan yang lain ke depan.

“Harapanya ini bukan akhir, tetapi awal dari kemenangan-kemenangan selanjutnya. Semoga ke depan mahasiswa FH yang lain juga bisa memmbanggakan nama baik UNAIR lewat prestasi-prestasi lainnya,” pungkas Ezra. (*)

Penulis : Sugeng Andrean

Editor : Binti Q Masruroh

BANGGA! ALUMNI FH UNAIR KEMBALI RAIH MAHKOTA PUTERI INDONESIA 2020

Humas(09/03) |  Setelah enam tahun lalu Elvira Devinamira Wirayanti alumnus Fakultas Hukum (FH) Univesitas Airlangga (UNAIR) memperoleh gelar Puteri Indonesia tahun 2014, tahun ini, gelar itu kembali diperoleh alumnus Universitas Airlangga. Adalah Rr Ayu Maulida Putri, alumnus FH UNAIR angatan 2015 berhasil meraih mahkota Puteri Indonesia tahun 2020.

Ayuma, sapaan karibnya, berhasil dinobatkan sebagai Puteri Indonesia tahun 2020 setelah menyisihkan sebanyak 38 peserta Puteri Indonesia lainnya yang berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Gelar itu disematkan pada Jumat malam (6/3/2020) di Jakarta Convention Center.

Ayuma baru saja memperoleh gelar sarjana hukum Universitas Airlangga pada September 2019. Selain mendapatkan gelar Puteri Indonesia tahun 2020, pada penghargaan bergengsi itu dia berhasil mengantongi juara Second Runner-up evening gown serta menjadi pemenang dalam Traditional Costum yang mengangkat tema Cahaya Kejayaan Majapahit.

Perjalanan Ayuma dimulai ketika masuk sebelas besar. Dia mengangkat advokasi mengenai Senyum Desa yang juga merupakan komunitas pengabdian yang didirikan oleh mahasiswa UNAIR. Sebelumnya, Ayuma berperan aktif dalam komunitas tersebut, sehingga mengantarkannya masuk dalam enam besar. Seleksi itu lantas mengantarkan Ayuma masuk dalam jajaran tiga besar Puteri Indonesia.

Pada proses seleksi semalam, Ayuma berhasil menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Putri Kuswisnu Wardani selaku dewan juri dengan berbobot, padat, dan jelas mengenai arti kebahagiaan.

“Bahagia bagi saya adalah bagimana dapat bersyukur atas jati diri kita, atas segala kelebihan dan kekurangan kita, atas segala kesuksesan dan kegagalan kita. Bagaimana kita dapat bermanfaat bagi orang lain di sekitar kita dan bagaimana kita tetap selalu bersyukur atas segala cobaan, jatuh dan bangun. Karena sejatinya hal itulah yang menjadikan kita orang yang sukses, orang yang sukses yang selalu bersyukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa,” jawab Ayuma disambut teriakan serta tepuk tangan riuh dari penonton.

Jawaban rasa syukur atas jati diri itu memukau para dewan juri, sehingga mengantarkan Ayuma memperoleh poin tertinggi pada malam final. Kemudian, para dewan juri memutuskan Ayuma-lah yang berhak dinobatkan sebagai Puteri Indonesia 2020.

Ayu Maulida (tengah) bersama pemenang lainnya berasal dari Provinsi Bali (kiri) dan Jawa Tengah (kanan). (Foto: Instagram @akudanpl)

Sebelumnya, perjalanan karir Ayuma di dunia modelling cukup panjang. Tahun 2017 ia sempat mengikuti ajang Puteri Indonesia Jawa Timur namun belum dapat lolos menuju kompetisi tingkat nasional. Namun, hal itu tak lantas membuatnya putus asa.

Dia kemudian mencoba kembali pada tahun ini dengan memperbaiki segala kekurangannya. Gelar juara umum pada kompetisi Face of Asia pada tahun 2019 turut menjadi bekal Ayuma dalam mengikuti kompetisi Puteri Indonesia.

Rektor Universitas Airlangga Prof. Mohammad Nasih mewisuda sebanyak 1.287 lulusan pada Sabtu pagi (7/3/2020). Dalam pidatonya kepada ribuan lulusan, orang tua, dan juga tamu undangan, Rektor menyampaikan rasa bangganya terhadap prestasi yang diperoleh Ayuma.

“Tadi malam baru saja salah seorang alumni kita berhasil menjadi juara Puteri Indonesia 2020. Ini prestasi yang tak mudah dicapai. Kita layak bangga memiliki alumni seperti Ayu Maulida,” ucap Rektor.

“Apa yang dicapainya merupakan usaha panjang yang dirintisnya sekak masih sebagai mahasiswa. Saudara-saudara bisa belajar dari semangatnya dan ikhtiarnya mewujudkan cita cita,” tambahnya.

Dengan dinobatkannya Ayuma sebagai Puteri Indonesia 2020, nantinya dia berhak mewakili Indonesia di ajang kontes kecantikan bertaraf Internasional yakni Miss Universe 2020. (*)

Penulis: Febrian Tito Zakaria Muchtar

Editor: Binti Q. Masruroh

Repost: Unair News

TIM PHILLIP JESSUP INTERNATIONAL LAW MOOT COURT COMPETITION FH UNAIR MEMENANGKAN NATIONAL ROUND INDONESIA

Humas(10/02) | Tim Phillip Jessup International Law Moot Court Competition dari Fakultas Hukum Unair akhirnya memecahkan record, pertama kali memenangkan National Round Indonesia, dan berhak mewakili Indonesia di international round di Washington DC bulan April 2020 nanti. Kemenangan ini yg pertama kali bagi FH unair, setelah sejak tahun 2006 mengikuti kompetisi bergengsi ini. Tahun lalu tim FH unair mewakili Indonesia sebagai runner up, dan mendapat ranking 13 dunia (dr 680 peserta dari 130 negara), tahun ini kami berharap mendapatkan ranking yang lebih tinggi.
Tim Jessup Unair 2020 ini terdiri dari
1. Zalfa Jatmiko
2. Josua Iskandar
3. Thessalonika
4. Khaterine

Dengan pelatih Dr Intan Soeparna dari department Hukum Internasional. Sengketa yg di tangani para peserta adalah mengenai perdagangan internasional, Autonomous Weapon dan kejahatan internasional. Tim Unair dengan nilai paling tinggi berhasil mengalahkan pemenang tahun lalu (UI) dan 30 peserta lainnya.

3 MAHASISWA FH UNAIR IKUTI ASIA INTERNATIONAL MODEL UNITED NASTIONS II DI BALI

Humas(28/01) | Liburan semester gasal dimanfaatkan dengan baik oleh 3 orang mahasiswa FH UNAIR yang terdiri dari Rebecca Mariana A. G. (2017), Raymond Jonathan (2019) dan Pradnya Wicaksana (2019). Kegiatan yang berlangsung di Bali yang dimulai dari tanggal  18-21 Januari 2020 tersebut merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh International Global Network.

Bali Asia International Model United Nation diikuti oleh sejumlah negara beberapa diantaranya adalah Nepal, Korea Selatan, Malaysia, Vietnam termasuk Indonesia. Kegiatan tersebut juga menghadirkan sejumlah tokoh diantaranya adalah Activist Melanie Subono dan Founder and Director of Mother Jungle San Van Oort. Tema yang diusungkan dalam kegiatan tersebut adalah “The envolving of cultural environmental awareness for a brighter future”.

Kontributor: Unit Sistem Informasi FH UNAIR