Skip to main content

WIWIK WAHYUNI (1986): HOBI OLAHRAGA, ASAH LOGICAL THINKING, JALANI KULIAH DENGAN HAPPY

<p style=”text-align: justify;”>Setelah menjalani keseharian sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga, tentu akan tiba suatu saatnya menjadi lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga dan status mahasiswa berubah menjadi alumni. Begitu pula yang terjadi pada Ibu Wiwik Wahyuni, seorang direktur dengan spesialisasi <em>human capital</em>/<em>human resources</em>, yang dulunya menjadi salah satu mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga angkatan 1986. Memiliki hobi dalam bidang olahraga, Bu Wiwik merupakan salah seorang pemain basket unggulan baik fakultas maupun Universitas Airlangga. Tidak salah apabila Ibu Wiwik terkenal memiliki banyak teman yang sering mendukungnya hingga beliau pun tidak merasa memiliki kendala yang berarti semasa perkuliahannya. &ldquo;Pokoknya saya saat kuliah itu merasa sangat senang karena berada di lingkungan yang positif dengan ditemani oleh banyak teman yang membantu. Yang penting adalah menjalani kuliah dengan gembira,&rdquo; tuturnya dalam sesi wawancara bersama penulis saat itu.</p> <p style=”text-align: justify;”>Di sisi lain, beliau mengaku menyenangi mata kuliah Hukum Dagang saat mengenyam bangku perkuliahan. Menurutnya Hukum Dagang merupakan sebuah mata kuliah yang faktual dan riil karena praktiknya dekat dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi beliau sendiri masa-masa kuliah harus dilakukan dengan benar dan sepenuhnya karena nilai yang bagus tetap akan menjadi bekal untuk bekerja nantinya. Selain itu kegiatan non-akademik seperti ekstrakulikuler tetap harus jalan beriringan dengan proses pembelajaran agar seimbang. &ldquo;Kalau belajar di hukum itu jangan hanya modal menghafal tapi juga menggunakan <em>logical thinking</em> yang akan banyak membantu dalam dunia kerja di bidang apapun,&rdquo; tambahnya.</p> <p style=”text-align: justify;”>Selanjutnya, Bu Wiwik bercerita mengenai pengalamannya saat menjadi <em>fresh graduate</em> dan mengalami masa pergantian dari dunia mahasiswa ke dunia kerja, &ldquo;Dulu saya sudah bertekad untuk bisa bekerja sambil belajar di luar negeri, sehingga hal tersebut mendorong saya untuk bekerja 10 kali lipat lebih keras daripada rekan kerja lainnya. Kalau orang bilang kerja itu hanya butuh <em>work smart</em>, bagi saya, kerja itu merupakan campuran <em>work smart</em> <em>and work hard</em>. Saya juga menyadari bahwa sebenarnya antara mahasiswa yang sedang berkuliah, dengan orang yang bekerja, dalam kehidupan sehari-hari itu semua hampir sama. Kuncinya ada pada cara komunikasi yang <em>luwes</em> dan baik, dapat menyampaikan pikiran dengan tepat dan terstruktur. Ketika bekerja, yang perlu diperhatikan ialah bagaimana kemauan kita untuk selalu belajar, berani dan jangan malu untuk bertanya. Tidak lupa juga untuk selalu menjunjung pendirian dan integritas yang baik. Harus bisa menghargai dan <em>treat</em> orang lain dengan <em>fair and respect</em>.&rdquo; Bu Wiwik menjelaskan bahwa komunikasi yang baik dapat dilakukan dengan lebih dulu belajar mendengarkan. Kemudian mulai mengenal lebih jauh lawan bicara, bagaimana watak dan sudut pandangnya. Setelah itu dari diri sendiri harus dapat memahami, hal apa yang ingin disampaikan kepada lawan bicara, apakah sebuah <em>feedback</em> ataukah sebuah saran. Serta selalu menggunakan <em>logical thinking</em> dan berusaha untuk menggunakan kacamata lawan bicara untuk memahami keadaan lawan.</p> <p style=”text-align: justify;”>Lebih lanjut, Bu Wiwik juga berbagi motto hidup yang selalu ia bawa &ndash;<em>nothing is impossible</em>, semua hal pasti bisa dipelajari. Dari hal tersebut akan menumbuhkan go<em>od attitude and can do attitude</em> yang selalu mencari jalan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Di akhir sesi wawancara, Bu Wiwik berpesan kepada para mahasiswa yang sedang berjuang untuk belajar sungguh-sungguh agar tidak menyesal karena modal utama <em>fresh graduate </em>ialah nilai kelulusan itu sendiri. &ldquo;Jangan lupa juga untuk mengasah kemampuan analisa dan keahlian dalam berorganisasi. Rajinlah untuk meluangkan waktu belajar hal-hal baru serta mulai kenali etos kerja dengan <em>internship</em> di perusahaan&rdquo;.</p> <p style=”text-align: justify;”>&nbsp;</p> <p style=”text-align: justify;”>Penulis: Patricia Inge Felany</p>

DIDIK SASONO SETYADI (1986): BEKAL YANG CUKUP DI BANGKU KULIAH MEMUDAHKAN LANGKAH DALAM BERKARIR

Menjadi sarjana hukum pada saat lapangan kerja menyempit tidaklah mudah. Namun bekal hard skill dan soft skill yang cukup semasa kuliah dapat mempermudah langkahnya memasuki dunia kerja. Hal ini merupakan pengalaman pribadi Dr. (Cand) Didik S Setyadi, S.H., M.H, Alumnus FH UNAIR yang meraih gelar sarjana hukum pada tahun 1993, berbarengan dengan tight money policy di Indonesia. Pada saat itu, kebijakan monoter ketat berdampak pada ketersediaan lapangan kerja yang sedikit.

Namun, hal itu tidak mengecilkan langkah Alumnus FH UNAIR angkatan 1986 tersebut untuk tetap mencoba peluang kerja yang tersedia. Memasuki dunia kerja, ia memijakkan kaki untuk pertama kali sebagai legal officer di bidang kontraktor dan telekomunikasi. Berbekal pengalaman akademis dan non-akademisnya dalam berorganisasi, mempermudah langkahnya dalam berkarir. Dalam hitungan enam bulan sejak bekerja sebagai legal officer, ia mendapat amanah untuk menjadi general affair manager di perusahaan tempatnya bekerja.

Berkarir sebagai general affair manager di salah satu perusahaan kontraktor dan telekomunikasi, Didik, sapaan akrabnya mendapat banyak pengalaman baru. Ia juga dapat memanfaatkan pengalaman berorganisasi, public speaking dan kemampuannya dmenyelesaikan konflik dalam pekerjaannya. Saat krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998, dampaknya dirasakan langsung oleh Didik di tahun 2000. Pada saat itu, keadaan anak perusahaan yang di-manage olehnya memburuk. Namun, berkat usaha dan doanya yang tiada henti, Didik mendapat beberapa tawaran pekerjaan.

Pilihannya pun jatuh pada Hess Corporation di Jawa Timur. Lagi-lagi, Ia memanfaatkan bekal pengalamannya semasa kuliah, beorganisasi dan pengalaman di tempat kerja sebelumnya untuk memaksimalkan potensi dirinya. Ia juga aktif dalam melakukan negoisasi mewakili perusahaanya dengan berbagai pihak.

Melihat kompetensi dan kapabilitas yang dimilikinya, Didik mendapat tawaran untuk bekerja di bidang lain dengan posisi dan kompensasi yang lebih bagus lagi. Ia pun memutuskan untuk menerima tawaran tersebut dan bekerja di ConocoPhillips Indonesia. Selama 8 tahun bekerja, ia banyak mengurusi hal-hal yang bersifat compliance terhadap peraturan yang bersinggungan dengan kehutanan, bahkan sebelum undang-undang tentang kehutanan diundangkan. Lagi-lagi, ia mendapat tawaran untuk bekerja di tempat lain. Didik menerimanya dan bekerja di Santos Ltd. Selama 3 bulan sebelum akhirnya ditarik ke SKK MIGAS.

Awalnya, ia memegang urusan legalitas pertanahan dan perizinan. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Formalitas, PLT Kepala Divisi Hukum, Ketua One Door Service Policy SKK MIGAS.

Didik mengaku, semasa kuliah ia aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Ia pernah menjabat sebagai koordinator penalaran selama 3 periode di senat mahasiswa (saat ini BEM), ikut mendirikan perkumpulan mahasiswa jurusan administrasi dan hukum tata negara, ikut dalam 5th conference ALSA, menjadi bagian dari ikatan mahasiswa senat hukum Indonesia, ikut dalam perkumpulan majalah mahasiswa FH, dan menjadi ketua ikatan pers mahasiswa cabang Surabaya.

Ia menuturkan, tantangan terbesar semasa kuliah adalah, bangku perkuliahan hanya memberikan bekal ilmu dasar. Sehingga mahasiswa harus pintar-pintar mencari pengalaman lain di luar bangku perkuliahan. Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa saat ini,  para mahasiswa dan fres graduates harus melihat peluang kerja tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat internasional. Untuk itu, ia berpesan agar para mahasiswa dan fresh graduates untuk tidak patah semengat, terus berjuang dan memperiapkan diri serta mengesampingkan rasa takut dan minder.

Didik yang juga merupakan Ketua Ikatan Alumni FH UNAIR JABODETABEK ini mengapresiasi langkah FH UNAIR yang mulai membangun relasi dengan para alumni. Sinergi dari FH UNAIR dan alumni akan memberikan dampak baik bagi FH UNAIR kedepannya. Ia menuturkan, banyak alumni dengan profesi beragam yang hebat dalam bidangnya. Ini dapat menambah insight bagi para mahasiswa dan fresh graduates untuk melihat peluang kerja tidak sebatas berprofesi sebagai hakim, jaksa dan pengacara.

Penulis: Annisaa Azzahra

Sumber Foto: Twitter SKK MIgas

ABDUL NASIR MAKSUM (1990): DARI AKTIF UKM, DEMO HINGGA STRATEGI PENTING TIAP SEMESTER

Abdul Nasir Maksum, alumni FH UNAIR saat ini menjabat sebagai General Manager Human Capital PT Pamapersada Nusantara (PAMA). Semasa bangku perkuliahannya, Pak Nasir termasuk mahasiswa yang memiliki jadwal padat dengan berbagai kegiatan akademik maupun non akademik. Masuk pada awal tahun 1990-an, Pak Nasir aktif untuk mengikuti UKM mulai dari jujitsu, bulu tangkis hingga bola voli di tingkat universitas. Pada tingkat fakultas, beliau disibukkan sebagai aktivis kampus serta Ketua Bidang Minat dan Bakat BEM Fakultas Hukum Universitas Airlangga. “Saya ini dulu sering masuk Jawa Pos, wong suka ikut demo jamannya Pak Soeharto”, canda Pak Nasir dalam sesi wawancaranya. Meskipun memiliki bermacam aktivitas, Pak Nasir mengaku tidak memiliki kendala dalam meraih nilai yang memuaskan, “Saya sedikit berstrategi pada saat itu. Semester I, II dan III saya habiskan mata kuliah wajib dan memacu IPK. Sehingga tidak ada mata kuliah yang mengulang dan basic hukum saya bagus. Nah ketika memasuki semester IV yang mata kuliahnya sudah lebih ringan, saya mulai bergabung ke organisasi.”

Memiliki pengalaman berkesan bersama teman-temannya sebagai ‘Pasukan Kantin’, bapak satu anak ini menyatakan bahwa masalah akan menjadi ringan apabila banyak memiliki kawan. Sejatinya tidak ada yang namanya susah karena semua bergantung pada cara yang dipilih untuk survive dan menghadapi masalah tersebut. Untuk bergaul dengan banyak orang, Pak Nasir memiliki jurus jitunya sendiri. “Kita harus dapat melihat value diri sendiri dengan jelas dan berpendirian teguh. Selanjutnya tentukan, tujuan ingin berteman dengan si A, si B ini apa dan mau bergaul seperti apa.”

Lebih lanjut, Pak Nasir menggambarkan situasi ketika beliau menjalani pergantian masa perkuliahan ke pencarian pekerjaan. Saat itu beliau yang merasa sudah memiliki bekal diri yang cukup, menyadari bahwa dunia kerja tidak semudah yang dibayangkan. Masih ada  banyak hal yang berlum dipersiapkan secara matang ketika beliau masuk dalam dunia pekerjaan. Maka dari itu, Pak Nasir mengingatkan para mahasiswa pada jaman ini untuk semaksimal mungkin memanfaatkan informasi yang tersebar luas di dunia maya dengan baik. Selain itu, apabila ingin berkembang, jangan membatasi diri, buka pemikiran seluas mungkin karena masih banyak hal yang bisa dijelajah. Konsisten dengan mimpi yang ingin dicapai atau apa yang sedang dikerjakan, tekun dan jangan melakukan sesuatu dengan setengah-tengah.

Dalam penutupnya Pak Nasir mengutip kalimat dari Colin Powell, “Tidak ada rahasia untuk menggapai kesuksesan. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras, dan mau belajar dari kegagalan.”

Penulis: Patricia Inge Felany

ETTY SOEWARDHANI (1978): PERSONAL BRANDING SEBAGAI KUNCI DALAM MENITI KARIR

Etty Soewardani, S.H., M.M. adalah alumnus FH UNAIR angkatan 1978 yang saat ini menjabat sebagai Plt. Direktur Utama dan Direktur SDM & Umum PT PAL Indonesia (Persero). Bekerja di perusahaan yang mayoritasnya diisi oleh lulusan teknik, Etty Soewardani, S.H., M.M. menyatakan bahwa personal branding dan mental yang kuat adalah kunci dalam perjalanan karirnya. Dua hal inilah yang didapatkannya dari FH UNAIR. Bekerja di perusahaan teknik, Etty Soewardani, S.H., M.M. mengaku mendapat banyak ilmu bidang teknik dari kolega tempatnya bekerja. Tak berhenti di situ, ia memutuskan mengambil sekolah magister manajemen dan magister hukum. Ia merasa, bidang manajerial dan hukum akan terus dibutuhkan di perusahaan tempatnya bekerja, karena tidak hanya berfikir teknis pembuatan kapal, dibutuhkan juga pemahaman terkait dengan transaksi bisnis, kerja sama, kontrak, choice of law, choice of forum sampai dengan cara bernegosiasi. Berdasarkan kemampuannya dalam bidang tersebut pula, ia semakin menguatkan personal branding-nya hingga dapat menduduki jabatannya saat ini.

Ia berharap bahwa generasi millennials khususnya fresh graduate FH UNAIR diharapkan dapat berkreasi dan berinovasi sehingga tidak hanya mencari pekerjaan, namun juga dapat menciptakan pekerjaan. Selain itu, personal branding ialah hal yang harus dimiliki. Tiga kunci utama yang diperlukan dalam membangun personal branding yakni, fokus pada sesuatu yang ditekuni, punya keberanian, dan terakhir, kemampuan komunikasi. Dalam dunia pekerjaan, selain ide-ide cemerlang, dibutuhkan juga cara mengkomunikasikan ide cemerlang tersebut. Selain itu, Ia berpesan kepada para fresh graduates dan para mahasiswa yang akan lulus nantinya untuk tidak mudah puas dengan apa yang dicapai saat ini. Ia menambahkan, para mahasiswa dan fresh graduates diharapkan dapat menambah ilmu yang dimilikinya agar nantinya alumni FH UNAIR dapat berkontribusi untuk kemajuan bangsa

Sumber foto: Twitter PT PAL

DHANNY JAUHAR (1997): “MYTH BUSTER: INDONESIAN LAWYERS CAN ONLY WORK AS A LAWYER IN INDONESIA”

I feel honored to write this short note for Airlangga Law School, the law school I went to for my first law degree. I am a Senior Legal Counsel with a state owned multinational energy company based in Kuwait City, the State of Kuwait.  This year will mark my 5th year career abroad. Prior of assuming this role I was working for various multinational energy companies and spent at about 2.5 years in private practice.  I understand that there are plenty of Airlangga Law School’s graduates that choose to pursue their legal career abroad.

I can confidently say that I have made the right decision to read law at Airlangga Law School. Not only it is academically rewarding, I also found my undergraduate time to be one of my most memorable learning experience. I found the education system at Airlangga Law School is structured to constantly encourage students’ active participation, nurture critical thinking and building long lasting sense of camaraderie. My academic life at the Airlangga Law School was a perfect formula between academic demands and active involvement in extra-curricular activities. A formula which I think crucial to prepare law students to face future challenges and global competition.

The seniors and alumni are inseparable part of the academic support system that proactively extend helping hands. The said supports extend beyond the walls of the faculty and academic life. I was even assisted by a senior to find my first professional job. I still get similar supports from the alumni, be it assistance relevant with my career planning, opportunities and other matters.

I think it is important for me to mention that I do not have flawless academic records. It was even a bit of struggle for me to keep up with the academic demand. Alhamdulilah, with the guidance of the teaching staffs and supports from my peers, I successfully obtained my first law degree, bagged various scholarships for academic achievements, awarded as high achiever (Mawapres 2001), and a fellowship to study overseas prior to my undergraduate graduation.

I am now pursuing my professional legal career abroad, completely absent of the home ground advantages and the support it offers. I frequently being asked (including by fellow Indonesians) on how it is possible for Indonesian lawyers to work as a lawyer abroad where most of the time Indonesian law and language is not really relevant. There may be merits in that question, indeed I have to familiar myself with foreign legal systems and communicate in foreign language. However, I found this FAQ to be clearly obsolete. Look around, how many foreign/expatriate lawyers you can find in Jakarta, London, and other major cities? For fairness, the exact same question should also be posed to them. If they can, then what makes us doubt ourselves in our capability to do the same or even more? if the Ivy Leagues’ graduates can achieve those, then law students that prefer tempe penyet over Wagyu beef should also be able to achieve the same, and probably even more. The key is to keep trying, not to give up and most importantly to make proper preparation. Choosing the right learning environment is very crucial to prepare to compete and survive in global competition. The said environment need to aspire and prepare us to achieve our goals. For me, one of those environment is the learning environment I found at the Airlangga Law School.

Believe in yourself and be confident that your courage will determine how far you can go. (Dhanny Jauhar, 1997)

 

 

ANIS FARIDA (1993): KONSISTENSI MENYUARAKAN PENTINGNYA KESETARAAN GENDER

Dr. Anis Farida, S.Sos, S.H., M.Si. yang merupakan Alumnus FH UNAIR Angkatan 1993 adalah salah satu perempuan yang aktif berkiprah di bidang kesetaraan gender. Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) ini aktif menyuarakan suara perempuan melalui penelitian ilmiah maupun advokasi. Ia tergabung dalam Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender dan Anak Indonesia (ASWGI). ASWGI beranggotakan Pusat Studi dan Pusat Kajian Gender di tiap-tiap universitas di Indonesia dan program studi tentang gender dan wanita.

Ketua Pusat Kajian Gender dan Islam (PKGI) UINSA ini telah memiliki sense of equality antara perempuan dan laki-laki sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu, Ia sudah memiliki pemikiran bawa laki-laki dan perempuan adalah setara. Masa bermainnya tidak hanya dihabiskan dengan permainan khas anak perempuan namun juga permainan khas anak laki-laki seperti sepak bola. Perempuan kelahiran Blitar ini mengaku gemar membaca dan mendapat banyak wawasan baru dari apa yang dibacanya. Menurutnya, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan adalah bagian dari hak asasi manusia. Hal itulah yang menjadi titik awal baginya untuk dapat memperjuangkan kesetaraan gender sampai saat ini. Ia juga menjunjung tinggi rasa toleransi terhadap pluralisme yang ada di Indonesia sejak kecil.

Tidak hanya berkontribusi dalam pusat studi gender, Anis Farida juga aktif dalam kepengurusan Pajero Indonesia ONE (PI.ONE), komunitas pengguna mobil Pajero se-Indonesia. Ia telah menjadi Wakil Sekretaris Jenderal 1 selama 2 periode. Dalam kepengurusan nasional, ia merupakan satu-satunya perempuan yang menduduki jabatan. Ia mengungkapkan, ini membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi setara dengan laki-laki. Yang terpenting menurutnya ialah, perempuan harus mampu membawa diri agar tetap dihargai dan dihormati dimanapun ia berada.

Sebagai seorang dosen tetap di UINSA, Anis Farida mengajar mata kuliah legal opinion dan penyelesaian sengketa antar negara pada program sarjana. Di program magister hukum tata negara, ia mengajar materi metode penelitian, filsafat hukum, dan teori hukum.