Surabaya (beritajatim.com) – Keterbatasan ekonomi bukan halangan bagi seseorang untuk memperoleh ilmu. Ungkapan tersebut seolah mampu menggambarkan perjalanan Noviana dalam menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga. Tak tanggung-tanggung, gelar wisudawan terbaik pun berhasil direngkuhnya. Dia menjalani wisuda di Airlangga Convention Center, Jumat (6/9).
jatimnow.com – Lahir dari keluarga miskin tidak membuat Noviana berkecil hati. Sejak masih duduk di taman kanak-kanak (TK), ia mengamen.
Kini Noviana berhasil lulus kuliah cum laude dan menjadi wisudawan terbaik S1, Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (Unair) setelah mendapat bantuan mantan Wali Kota Surabaya, Bambang DH (BDH).
Sebelum matahari menyengatkan panasnya, setiap hari Noviana kecil mengikuti dua kakaknya berjalan ke perempatan Ngagel Jaya. Di pinggir jalan yang tidak jauh dari rumahnya ini, tiga saudara tersebut mengamen hingga sore hari.
SURYA.co.id | SURABAYA – Keterbatasan ekonomi tak menghalangi Noviana untuk mengenyam ilmu. Meski pernah jadi pengamen Surabaya, Novi tetap berkeinginan menempuh pendidikan tinggi hingga akhirnya berhasil masuk Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (Unair), bahkan meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,94.
Gadis asal Surabaya ini mengisahkan perjalanannya yang tak mudah selama menempuh pendidikan. Ia pernah jadi pengamen di jalanan Surabaya bersama dua saudaranya. Pilihan mengamen bermula saat kedua orangtuanya sakit keras. Saat itu usia Noviana sekitar lima tahun.
SURABAYA, – Menyimak perkembangan politik terakhir dimana ada upaya secara sistematis prlemahan KPK dalam bentuk RUU KPK, termasuk di dalamnya RUU KUHP, menunjukkan kemunduran upaya pemberantasan korupsi yang seharusnya menjadi semangat, sekaligus anak kandung reformasi.
Seakan tidak cukup dari sisi legislasi, darurat anti-korupsi tergambar dengan seleksi Capim KPK yang diduga syarat konflik kepentingan, gagalnya pengungkapan kasus penyerangan dan intimidasi terhadap para penyidik KPK, termasuk impunitas kasus Novel Baswedan.
Surabaya–Detakpos-Masyarakat Indonesia dikejutkan oleh DPR dengan kesan tergesa-gesa melakukan pembahasan pada sidang paripurna pada Kamis (05/09/2019), mengenai RUU Tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (RUU Perubahan Kedua UU KPK).
“Proses pengajuan RUU Perubahan Kedua UU KPK dilakukan secara cepat, cenderung tanpa melibatkan KPK dan masyarakat.” Demikian rilis yang diterima, Selasa, (10/9).
UNAIR NEWS – Keterbatasan ekonomi bukan halangan bagi seseorang untuk memperoleh ilmu. Ungkapan tersebut seolah mampu menggambarkan perjalanan Noviana dalam menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga. Tak tanggung-tanggung, gelar wisudawan terbaik pun berhasil direngkuhnya. Dia telah menjalani wisuda pada Jumat (6/9/2019) di Airlangga Convention Center.
Noviana mengisahkan, perjuangannya agar dapat mengenyam bangku sekolah tidaklah mudah. Terlahir dari keluarga yang serba kekurangan membuat dara asal Surabaya itu tergerak untuk membantu perekonomian keluarga dengan cara mengamen dari satu tempat ke tempat lain. Meski harus menghadapi berbagai risiko, dirinya memilih teguh.
“Ketika saya dalam kandungan, bapak yang berprofesi sebagai kuli bangunan mengalami kecelakaan parah saat bekerja. Karena kekurangan biaya, bapak tidak dioperasi. Beliau segera bangkit dan menjadi tukang becak walaupun belum sepenuhnya sembuh. Tidak lama berselang, becak bapak dicuri,” ungkap anak ke empat dari delapan bersaudara itu.
Pilihan mengamen bermula ketika kedua orangtua Noviana sakit keras. Kala itu, dua kakaknya mencoba untuk mengadu nasib di jalanan. Upaya ini kemudian diikuti oleh saudara-saudarinya yang lain. Larangan orang tua tak mampu membendung tekad Noviana beserta seluruh saudaranya dalam membantu perekonomian keluarga.
“Akhirnya, bapak memperbolehkan kami mengamen dengan catatan sekolah tetap yang utama. Jangan dijadikan sumber penghasilan hingga dewasa. Bahkan, ibu dan bapak setia mengawasi kami saat mengamen. Selain itu, mereka juga sangat disiplin terkait pendidikan. Waktu beristirahat kami gunakan untuk mengerjakan tugas,” kata Noviana.
Mengadu nasib di jalan bukanlah tanpa risiko. Beberapa kali mereka harus berhadapan dengan aparat keamanan bahkan ditahan di Lingkungan Pondok Sosial (LIPONSOS) dalam kondisi kurang layak sudah menjadi ‘makanan’ sehari-hari. Namun, mereka tidak gentar. Bagi Noviana dan keluarganya, jalanan adalah tempat untuk belajar banyak hal.
“Singkat cerita, saya berhasil diterima di FH UNAIR melalui jalur undangan. Padahal, ketika masih kecil, saya lebih berkeinginan untuk menjadi guru matematika ketimbang sekolah hukum karena berfikir bahwa hukum dan politik itu kejam. Saya menjadi anak pertama di keluarga yang bisa melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi,” ujarnya.
Kuliah Hukum
Selama kuliah, Noviana berusaha untuk tidak merepotkan keluarganya. Berbagai upaya dia lakukan guna memenuhi kebutuhan perkuliahan, seperti berdagang barang, menjadi pelatih olahraga panah di salah satu klub memanah Surabaya, sampai menjajal magang di Unit Konsultasi dan Bantuan Hukum (UKBH) FH UNAIR demi menambah pengalaman.
“Selain di UKBH UNAIR, saya juga pernah mengikuti pelatihan paralegal di Surabaya Children Crisis Center (SCCC). Yakni, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang ditujukan bagi anak yang berhadapan dengan hukum. Saya belajar untuk turun langsung mengurus perkara anak di persidangan. Bagi saya itu adalah ilmu yang tidak ternilai,” kata Noviana.
Beruntungnya, di semester lima, Noviana menerima beasiswa perusahaan Chaeron Pokphand Indonesia yang menunjang pendidikannya hingga akhir perkuliahan. Skripsi berjudul Pengadaan Barang atau Jasa Pada Badan Layanan Umum mengantarkan Noviana meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,94. Kini, putri pasangan Sutrisno dan Karyatiningsih itu tengah melanjutkan karirnya di sebuah kantor advokat.
Noviana meraih predikat sebagai wisudawan terbaik S1 Fakultas Hukum UNAIR periode September 2019. Dia bersalaman bersama Rektor UNAIR Prof Moh Nasih (kiri) pada seremoni wisuda Jumat (6/9/2019). (Foto: Agus Irwanto)
“Ke depan, saya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang magister lalu mendaftar sebagai hakim. Tips bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan adalah restu orang tua, konsisten, berkomitmen, serta manajemen waktu. Nikmati setiap proses yang dilalui agar tidak merasa berat dan jangan lupa selalu berbagi,” tandas Noviana. (*)
UNAIR NEWS – Konferensi internasional Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) yang ditujukan bagi anak muda di wilayah Asia menjadi salah satu ajang bergengsi bagi mahasiswa. Sebab, konferensi ini memberi kesempatan bagi anak muda untuk belajar diplomasi, negosiasi, sekaligus berbagi ide dan solusi untuk memecahkan berbagai masalah di dunia.
Selain itu, AYIMUN menjadi platform yang mempertemukan pemimpin-pemimpin muda dari berbagai negara. Mereka bertemu untuk bertukar pikiran mengenai isu politik dan kemanusiaan. Tidak hanya itu, AYIMUN menjadi wadah komunikasi sekaligus membuka jejaring internasional para generasi muda.
UNAIR NEWS – Harvard Project for Asian and International Relations (HPAIR) Asia Conference adalah salah satu ajang bergengsi yang diadakan oleh Universitas Harvard. Acara ini diisi dengan berbagai kegiatan yang menarik meliputi seminar, diskusi panel, dan impact challenge. Diadakan setiap tahun, pada 2019 ini HPAIR Asia Conference diadakan di Khazakhstan, pada 16-20 Agustus 2019.
Salah satu mahasiswi terbaik UNAIR, Thesalonica Shinta Pramita Natalia Kurniawan Frans, turut menjadi bagian dari ajang bergengsi tersebut di tahun 2019 ini. Thesalonica mengaku, awalnya ia mengetahui informasi terkait ajang HPAIR Asia Conference lewat instagram. Ia pun segera melakukan pendaftaran melalui website. Thesalonica kemudian mengikuti tahap seleksi berkas dan wawancara hingga dinyatakan lolos menjadi peserta.
UNAIR NEWS – Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi hasil perikanan tinggi. Salah satu andalan perikanan Indonesia adalah budidaya perikanan darat. Data KKP menunjukkan rata-rata jumlah konsumsi ikan secara nasional selalu meningkat setiap tahunnya.
Menurut KKP, target perikanan budidaya di tahun 2019 sebesar 19 juta ton. Sedangkan, data sementara menunjukkan, hingga triwulan I 2019 budidaya perikanan mencapai sekitar 4 juta ton. Angka itu menunjukkan kenaikan sebesar 10 persen dari periode yang sama tahun lalu.
UNAIR NEWS – Media massa pada Agustus 2019 ramai dengan pemberitaan hukuman kebiri kimia pertama yang ada di Indonesia. Ketentuan tersebut merupakan pelaksanaan dari UU No. 17 Tahun 2016 Pasal 18 ayat (7) yang mengatur adanya hukuman tambahan bagi pelaku terpidana pemerkosaan berupa kebiri kimia.
Dosen hukum pidana, krimonologi dan viktomologi Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Amira Paripurna, S. H., LL. M., PhD., memberikan tanggapan atas hukuman kebiri kima yang sedang menjadi pro dan kontra. Amira menjelaskan bahwa terpidana yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak dan menimbulkan korban lebih dari satu, maka hukumannya diperberat. Hukuman dapat berupa pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara 10-20 tahun. Serta tidak menutup kemungkinan dijatuhi tindakan kebiri kimia.