Konflik Rusia-Ukraina dan Krisis Energi: Menilik Dinamika Diskusi AIILS FH UNAIR terkait Prospek Energi Terbarukan
Humas (23/9/2022) | Krisis energi adalah dampak yang jadi permasalahan utama dari konflik Rusia-Ukraina. Hal ini dikarenakan sanksi dan perbedaan posisi politik dari negara anggota NATO menyebabkan Rusia untuk menyetop ekspor minyak bumi dan gasnya. Kondisi tersebut melatarbelakangi diskusi yang digelar oleh Airlangga Institute for International Law Studies (AIILS) pada Rabu sore (21/9/2022).
Dua narasumber dengan dihadirkan. Pertama adalah mahasiswa FH UNAIR M. Falah Dawanis. Falah menuturkan bahwa premis transisi menuju energi bersih menjadi suatu hal yang mustahil menimbang kondisi yang terjadi akibat Konflik Rusia-Ukraina. Konflik ini akan makin meningkatkan kebutuhan global pada energi fosil, dan kini proporsi penggunaanya masih di angka 82%.
“Dengan krisis yang kini eksis, terdapat kerapuhan secara ekonomi terhadap transisi energi yang biayanya amat mahal di depan. Dalam konteks Indonesia, mungkin ia akan cocok untuk ditaruh di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) guna mencipta keadilan energi. Tetapi ia tak bisa mengganti energi fosil,” tegas mahasiswa angkatan 2019 itu.
Bilal Asyfahani Fireza, narasumber kedua berseberangan dengan pendapat Falah. Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional mengatakan bahwa semangat transisi menuju energi bersih tidak bisa dikesampingkan begitu saja dengan posisi yang pesimistik.
“Solusi paling ideal dan bisa dilakukan dalam mengatasi krisis iklim yang dampaknya amat membahayakan adalah dunia berpindah menuju energi bersih. Pesimisme itu bisa dipahami, tetapi itu merupakan keharusan dunia mengingat Paris Agreement itu legally binding,” ujar mahasiswa angkatan 2020 itu.
Lanskap opini itu ditanggapi oleh Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Dr (HC) Triyono Wibowo. Triyono menyetujui premis yang digaungkan Falah terkait kebutuhan Indonesia terhadap energi fosil. Hal ini dikarenakan bahwa transisi energi itu membutuhkan jangka waktu yang sangat panjang.
“Sekalipun negara-negara Eropa sudah mulai meningkat proporsi penggunaannya karena kemajuan teknologi yang membantunya, tetapi tetap saja jomplang proporsinya bila dibandingkan dengan negara lain (terutama negara berkembang),” ujar alumnus FH UNAIR itu.
Merefleksikan pada krisis energi yang dialami Indonesia saat ini, Triyono menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu khawatir dan punya ruang untuk dalam menghindari krisis energi. Penghindaran krisis tersebut disebabkan oleh selisih kecil yang dibutuhkan Indonesia (sekitar 600-800 ribu barel minyak bumi) untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
“Jumlah produksi minyak bumi itu masih banyak dan tidak langka. Indonesia bisa harusnya memanfaatkan politik Bebas Aktif dengan lebih berani, seperti kemungkinan untuk membeli minyak bumi dari Rusia. Namun tetap saja, ancaman untuk mendapatkan secondary sanctions dari negara NATO dan beban presidensi G20 harus dijadikan pertimbangan besar dalam melangkah lebih aktif,” tutup diplomat itu.
Penulis: Pradnya Wicaksana
