Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Merdeka Belajar Kampus Merdeka (PMM MBKM) adalah program pertukaran mahasiswa antar perguruan tinggi. Tahun ini, Fakultas Hukum Universitas Airlangga (FH UNAIR) menerima 61 mahasiswa program PMM MBKM dari berbagai universitas di luar Pulau Jawa.
Di antara 61 mahasiswa program PMM MBKM tersebut yaitu Marlen Novita Maloky dari Universitas Pattimura dan Zulkifli Hajar dari Universitas Sulawesi Barat. Melalui wawancara dengan FH News pada Jumat (7/10/2022), mahasiswi semester lima yang akrab disapa Marlen itu mengatakan program PMM MBKM menurutnya sangat bagus karena bisa menggali potensi para mahasiswa. Selain itu, program PMM MBKM juga membolehkan para mahasiswa yang mendaftar untuk lintas jurusan.
“Program ini menurut saya cocok sekali dengan mahasiswa karena selain kita bisa mendapat ilmu-ilmu dari kampus lain, kita juga bisa mempelajari budaya-budaya di luar daerah kita, menambah relasi, dan menambah pengetahuan,” ujar Zulkifli.
Marlen menjelaskan persyaratan untuk mendaftar program PMM MBKM sebenarnya cukup mudah, namun ada banyak dokumen yang harus dipersiapkan seperti kartu keluarga, kartu tanda mahasiswa, transkrip nilai, dan lain-lain. Selain itu, ada juga tes pengetahuan umum.
“Program PMM MBKM ini terbuka untuk seluruh jurusan, tidak terbatas pada jurusan hukum saja,” papar Marlen.
Marlen bercerita pada saat melakukan pendaftaran dan pengumpulan dokumen, ia sempat merasa kesulitan karena kesulitan login ke akun Jaminan Kesehatan Nasional sehingga tidak bisa mempersiapkan kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Namun, akhirnya semua kesulitan itu selesai dan ia dapat mendaftar program PMM MBKM.
“Untuk mengikuti program ini, kita mendapatkan benefit berupa konversi SKS (Satuan Kredit Semester, Red) dan diberi uang saku. Ada dana untuk biaya transportasi dan biaya hidup,” tutur Marlen.
Marlen merasa senang bisa berkesempatan untuk merasakan perkuliahan di FH UNAIR karena dosen-dosennya sangat baik dan mau mengajari mahasiswa-mahasiswa program PMM MBKM dengan sabar. Ia mengatakan dosen yang paling ia sukai adalah dosen Hukum Kesehatan, Riza Alifianto Kurniawan, S.H., MTCP.
“Bentuk pengajaran beliau itu bisa mengasah kita untuk berpikir kritis. Intinya UNAIR the best!” ucap Marlen.
Zulkifli juga menuturkan sejak dulu ia sering membaca buku-buku karya Guru Besar FH UNAIR, Prof. Peter Mahmud Marzuki. Ia merasa sangat senang ketika akhirnya bisa bertemu dengan Prof. Peter, bahkan sempat meminta foto juga.
“Kami mahasiswa FH dari universitas lain itu sering membaca buku-buku Prof. Peter. Kalau saya itu kan memang tidak ada mata kuliah yang diajar Prof. Peter, tetapi kami berkesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan beliau. Rasanya senang dan seru sekali,” cerita Zulkifli.
Selain pengalaman seru yang mereka dapatkan, mereka juga merasakan culture shock selama berkuliah di Kota Surabaya. Menurut Marlen, makanan di Surabaya rasanya kurang pedas untuk lidahnya yang terbiasa dengan masakan Maluku. Selain itu, lanjut Zulkifli, cuaca di Surabaya juga sangat panas dan berbeda dengan Sulawesi Barat yang tidak terlalu terik.
“Awalnya saya sempat berpikiran negatif pertama kali kuliah di FH UNAIR, tapi ternyata orang-orangnya baik-baik,” kata Zulkifli.
Marlen menyambung dengan menceritakan bahwa di universitas asalnya tidak ada tutorial Problem Based Learning dan membuat legal opinion seperti di FH UNAIR. Menurut Marlen, kedua hal itu merupakan hal yang baru baginya dan ia merasa senang berkesempatan untuk mempelajari kedua hal tersebut.
Sebagai penutup, Marlen dan Zulkifli menyampaikan harapan untuk program PMM MBKM dan FH UNAIR. Mereka berharap agar program PMM MBKM bisa lebih baik lagi ke depannya dan dapat menggali potensi para mahasiswa. Mereka mengajak para mahasiswa untuk mendaftar program PMM MBKM karena ini merupakan kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Zulkifli berharap FH UNAIR bisa menjadi institusi yang lebih maju lagi tidak hanya di skala nasional, tetapi juga skala internasional.
“Semoga FH UNAIR juga lebih baik lagi dan satu kata untuk FH UNAIR yaitu FH UNAIR terbaik,” pungkas Marlen.
Penulis : Dewi Yugi Arti